Scroll untuk baca artikel
PolitikSeniSosial

Sapa Warga Berbasis Budaya, Anggota DPRD Jabar Tina Wiryawati Dorong Anak Muda Kuningan Jaga Identitas Daerah

×

Sapa Warga Berbasis Budaya, Anggota DPRD Jabar Tina Wiryawati Dorong Anak Muda Kuningan Jaga Identitas Daerah

Sebarkan artikel ini
Pesilat dari Paguron Padjadjaran Cimande Awirarawan (PPCA) memeriahkan giat Sapa Warga Berbasis Budaya yang digelar Anggota DPRD Jawa Barat dari Fraksi Gerindra, Hj. Tina Wiryawati, SH., MM., di Halaman Villa De La Tina, Desa Puncak, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, (14/3/2026).
Pesilat dari Paguron Padjadjaran Cimande Awirarawan (PPCA) memeriahkan giat Sapa Warga Berbasis Budaya yang digelar Anggota DPRD Jawa Barat dari Fraksi Gerindra, Hj. Tina Wiryawati, SH., MM., di Halaman Villa De La Tina, Desa Puncak, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, (14/3/2026).

DIALEKTIKA KUNINGAN — Derasnya arus budaya global, terurama yang masuk lewat layar ponsel, media sosial, hingga gaya hidup sehari-hari, kekhawatiran terhadap memudarnya kedekatan generasi muda dengan budaya sendiri kembali mencuat. Bagi Anggota DPRD Jawa Barat dari Fraksi Partai Gerakan Indonesia Raya, Hj. Tina Wiryawati, SH., MM., gejala itu tidak bisa lagi dianggap sepele.

Ia melihat ada perubahan yang pelan tetapi nyata: anak-anak muda makin cepat menangkap tren dari luar, namun pada saat yang sama justru mulai berjarak dengan warisan budaya yang tumbuh di tanah kelahirannya sendiri.

Suasana itulah yang menjadi latar ketika Tina menggelar agenda Sapa Warga Berbasis Budaya di halaman Villa De La Tina, Kuningan, Sabtu 14 Maret 2026. Kegiatan itu bukan sekadar pertemuan biasa, melainkan ruang dialog tentang bagaimana budaya lokal tetap bertahan di tengah perubahan zaman yang bergerak sangat cepat.

Dalam forum tersebut, Tina berbicara lugas soal kecenderungan generasi muda yang menurutnya semakin akrab dengan simbol-simbol budaya asing. Ia menyebut, perkembangan teknologi memang membuat batas antarnegara nyaris tak terasa, tetapi keadaan itu juga membawa tantangan baru bagi budaya lokal.

Banyak remaja, kata dia, rela menyisihkan waktu untuk mengikuti perkembangan tren internasional. Mereka hafal nama grup musik, gaya busana, sampai istilah-istilah populer dari luar negeri, bahkan menjadikannya bagian dari identitas sehari-hari.

“Anak muda sekarang banyak yang lebih bangga meniru budaya luar. Mereka rela menghabiskan waktu dan uang untuk mengikuti tren dari luar negeri,” ujarnya.

Fenomena K-Pop menjadi salah satu contoh yang ia soroti. Menurut Tina, ketertarikan terhadap budaya luar tidak harus dipandang negatif, selama generasi muda tetap punya ruang untuk mengenal budaya daerahnya sendiri.

Namun yang ia lihat justru sebaliknya. Ketika kesenian tradisional ditampilkan, respons anak muda sering kali tidak seantusias saat menyambut tren modern yang datang dari luar.

“Ketika mereka disuguhkan kesenian daerahnya sendiri, justru terlihat asing di mata mereka. Bahkan sekadar menonton pun banyak yang enggan,” katanya.

Baginya, kondisi itu menjadi tanda bahwa pengenalan budaya lokal tidak boleh berhenti pada seremoni atau acara tahunan. Budaya harus hadir dalam keseharian, dekat dengan pengalaman hidup generasi muda, bukan sekadar dipandang sebagai peninggalan masa lalu.

Tina kemudian mengingatkan satu pepatah lama yang menurutnya masih sangat relevan untuk dibawa ke masa kini: Sunda ulah kasilih ku junti.

Ungkapan itu mengandung pesan sederhana tetapi dalam—jangan sampai sesuatu yang berasal dari luar justru menggantikan nilai yang sudah menjadi identitas sendiri.

Menurutnya, modernitas tidak perlu ditolak, tetapi harus disikapi dengan kesadaran. Anak muda boleh terbuka pada dunia, tetapi tetap harus tahu pijakan budayanya.

Sebab jika generasi muda tumbuh tanpa mengenal akar budaya, maka yang hilang bukan hanya tradisi, melainkan juga cara pandang terhadap kehidupan yang diwariskan dari generasi sebelumnya.

Karena itu, Tina menilai bahasa daerah perlu kembali diperkuat. Ia melihat penggunaan bahasa Sunda di ruang keluarga maupun pergaulan mulai berkurang, terutama di kalangan anak muda perkotaan.

Padahal bahasa, menurut dia, bukan hanya alat bicara. Di dalamnya tersimpan tata krama, rasa hormat, dan cara masyarakat memahami hubungan sosial.

Selain bahasa, ia juga mendorong generasi muda kembali dekat dengan seni tradisional, mulai dari tari daerah hingga Pencak Silat.

Pencak silat, menurut Tina, bukan hanya latihan fisik, tetapi juga pendidikan karakter. Ada unsur disiplin, penghormatan, dan pengendalian diri yang dibutuhkan anak muda hari ini.

Ia lalu mengaitkan pentingnya budaya dengan pesan kebangsaan yang pernah disampaikan Prabowo Subianto tentang ancaman hilangnya fondasi bangsa jika generasi penerus tidak lagi memegang nilai dasarnya.

“Tentunya yang dimaksud bukan hanya kehancuran secara fisik, tetapi juga hilangnya jati diri bangsa ketika generasi penerusnya meninggalkan kebudayaannya sendiri,” jelasnya.

Bagi Tina, budaya adalah perekat yang selama ini membuat masyarakat tetap punya rasa kebersamaan meski hidup dalam keberagaman.

Karena itu, pendidikan budaya menurutnya harus dikenalkan sejak dini, tidak menunggu anak dewasa.

“Edukasi tentang budaya harus ditanamkan sejak dini agar anak-anak kita memiliki kebanggaan terhadap warisan budayanya sendiri,” katanya.

Di bagian akhir kegiatan, pembicaraan bergeser ke isu lingkungan. Tina menilai kepedulian terhadap alam juga bagian dari tanggung jawab generasi muda terhadap masa depan.

Menjaga lingkungan, menurutnya, sejalan dengan menjaga budaya: keduanya sama-sama warisan yang harus dirawat.

Pada kesempatan itu juga diperkenalkan Tina Wiryawati Kopiku (Kolaborasi Pintar Kuningan), sebuah ruang kolaborasi yang dibangun untuk mempertemukan anak muda dari berbagai latar belakang.

Komunitas ini menjadi wadah terbuka bagi ide-ide kreatif, kepedulian sosial, dan gerakan nyata yang langsung menyentuh masyarakat.

Sejumlah komunitas yang sudah bergabung antara lain Sanggar Tari Astagiri, Paguron Padjadjaran Cimande Awirarawan (PPCA), serta kelompok pegiat lingkungan Bocah Hutan.

Melalui Kopiku, Tina ingin anak muda memiliki ruang untuk tumbuh tanpa kehilangan arah.

Kegiatan di dalamnya tidak hanya diskusi, tetapi juga bakti sosial, aksi lingkungan, sampai penguatan jejaring komunitas.

Ia berharap dari ruang-ruang kecil seperti itu lahir kebiasaan baru: anak muda yang terbuka pada perkembangan zaman, tetapi tetap sadar siapa dirinya.

Sebab menurutnya, tantangan terbesar hari ini bukan sekadar derasnya budaya luar, melainkan bagaimana generasi muda tetap punya keberanian menjaga identitasnya sendiri.

Di tengah dunia yang serba cepat, pesan itu terasa sederhana, tetapi justru di situlah letak pentingnya: mengenal dunia tanpa melepaskan akar tempat berpijak.***

Baca juga berita-berita menarik dialektika.id dengan klik Google News.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *