DIALEKTIKA KUNINGAN — Keputusan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, masuk ke barisan koalisi pemerintahan langsung memunculkan satu ukuran baru di ruang politik lokal: apakah partai ini masih berani bicara keras ketika kebijakan pemerintah dianggap melenceng.
Pertanyaan itu kini tidak lagi sekadar wacana. Sebab sejak posisi politik berubah, sorotan terhadap langkah Fraksi PKS di DPRD Kuningan ikut menguat.
Di tengah situasi itu, Fraksi PKS DPRD Kuningan memilih memberi penegasan terbuka.
Lewat forum silaturahmi bersama wartawan di ruang fraksi, Sabtu 14 Maret 2026, PKS menyatakan keberadaannya dalam koalisi tidak akan menghapus fungsi kontrol terhadap pemerintah daerah.
Pertemuan berlangsung sederhana, tetapi isi percakapannya menyentuh inti yang paling sensitif dalam politik daerah: bagaimana menjaga kritik ketika jarak dengan kekuasaan semakin dekat.
Sejumlah wartawan yang hadir bahkan langsung mengingatkan agar PKS tidak berubah terlalu jauh dari karakter politiknya selama ini.
Mereka berharap partai tersebut tetap menjaga suara korektif, terutama saat kebijakan pemerintah mulai menimbulkan persoalan di masyarakat.
Dalam forum itu hadir Wawan Romliansyah, Saepuddin, Siti Mahmudah, dan Kokom Komariah.
Dari seluruh pembicaraan, Saepuddin menjadi yang paling tegas memberi garis sikap.
Menurut dia, masuknya PKS ke dalam koalisi bukan alasan untuk mengendurkan pengawasan.
“Meski PKS masuk dalam koalisi pendukung pemerintah, dalam kiprah kami di legislatif dan ranah politik, kami akan tetap konsisten menjadi penyambung lidah rakyat,” ujarnya.
Kalimat itu seolah ingin memutus anggapan bahwa dukungan politik identik dengan diam.
Saepuddin menegaskan, jika nanti muncul kebijakan yang dinilai tidak tepat, fraksi tidak akan menahan diri.
“Apabila ditemukan ada kebijakan pemerintah yang dirasa tidak tepat, kami tentu akan hadir untuk menegur dan meluruskannya,” katanya.
Di politik lokal, pernyataan seperti ini biasanya cepat dibaca sebagai pesan ganda.
Ke dalam, ia menjadi sinyal bahwa PKS ingin tetap punya ruang sikap sendiri.
Ke luar, ia menjadi jawaban atas keraguan publik apakah partai akan larut dalam ritme koalisi.
Karena pengalaman politik daerah menunjukkan, partai yang sudah berada di lingkar pemerintahan kerap menghadapi dilema.
Terlalu keras mengkritik bisa dibaca mengganggu soliditas koalisi.
Tetapi terlalu lunak berisiko kehilangan kepercayaan pemilih.
PKS Kuningan tampaknya sadar betul terhadap titik rawan itu.
Sebab dalam forum tersebut, nada yang dibangun bukan sekadar pembelaan posisi politik, melainkan penegasan bahwa fungsi legislatif tetap harus berjalan.
Diskusi juga menyinggung harapan masyarakat terhadap peran fraksi di tengah kondisi daerah yang masih menghadapi banyak pekerjaan rumah pembangunan.
Beberapa wartawan menyampaikan bahwa publik tetap menunggu keberanian partai-partai di DPRD saat kebijakan menyentuh kebutuhan dasar warga.
Mulai dari anggaran pelayanan publik, program sosial, hingga kebijakan daerah yang dampaknya langsung dirasakan masyarakat.
PKS Kuningan belum menyebut secara spesifik sektor mana yang akan menjadi perhatian utama dalam waktu dekat.
Namun Saepuddin menekankan bahwa ukuran sikap partai tetap sederhana: berpihak pada kepentingan rakyat.
Dalam kesempatan yang sama, fraksi juga menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat jika selama ini perjuangan aspirasi belum dirasakan maksimal.
Nada itu muncul sebagai bentuk evaluasi terbuka.
Di tengah perubahan konstelasi politik, PKS tampak ingin menunjukkan bahwa masuk koalisi bukan akhir dari peran pengawasan.
Justru dari posisi baru itu, tekanan terhadap konsistensi partai akan semakin besar.
Karena publik biasanya tidak hanya mendengar pernyataan, tetapi menunggu bagaimana sikap itu terlihat saat keputusan penting mulai dibahas di meja DPRD Kuningan.
Apakah kritik tetap terdengar ketika kebijakan kontroversial muncul.
Atau justru perlahan meredup di tengah kenyamanan koalisi.
Dan dari forum kecil di ruang fraksi kemarin, PKS Kuningan tampaknya ingin memastikan satu hal lebih dulu: mereka belum berniat menurunkan nada. ***
Baca juga berita-berita menarik dialektika.id dengan klik Google News.






