DIALEKTIKA KUNINGAN — Sambil menunggu waktu berbuka puasa, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Cirebon menggelar silaturahmi bareng awak media pada Rabu (11/3/2026) untuk memotret kondisi keuangan di Ciayumajakuning (Cirebon, Indramayu, Majalengka, Kuningan).
Kabar baiknya, wajah sektor jasa keuangan di wilayah Ciayumajakuning sepanjang 2025 hingga awal 2026 terpantau masih sangat bertenaga dan stabil.
Kepala OJK Cirebon, Agus Muntholib, mengemukakan, kinerja 18 Bank Perekonomian Rakyat (BPR) di wilayah ini misalnya, sukses mencatatkan tren positif dengan penyaluran kredit mencapai Rp2,010 triliun hingga akhir tahun lalu. Menariknya, pertumbuhan ini dibarengi dengan turunnya angka kredit macet (NPL), yang artinya warga makin tertib bayar cicilan.
Aset BPR juga ikut gemuk, naik ke angka Rp2,87 triliun seiring kepercayaan masyarakat menyimpan uangnya yang mencapai Rp2,28 triliun. Secara operasional pun makin efisien, terlihat dari rasio biaya yang turun drastis meski tantangan ekonomi global belum sepenuhnya reda.
Bicara soal kemana uang mengalir, sektor perdagangan besar dan eceran masih jadi “primadona” serapan kredit BPR dengan angka Rp708,22 miliar. Namun kalau bicara pertumbuhan paling ngebut, kredit modal kerja pemenangnya karena tumbuh 4,73 persen dibanding jenis lainnya.
“Meski begitu, OJK tidak mau kecolongan dan terus memelototi penerapan strategi anti-fraud di seluruh BPR agar duit nasabah tetap aman. Konsolidasi perbankan juga terus didorong supaya bank-bank kecil di daerah punya fondasi yang lebih kokoh dan tahan banting,” ujar Agus.
Di sisi lain, Kepala OJK Cirebon menyampaikan, bank umum konvensional juga tak mau kalah dengan menyalurkan kredit sebesar Rp48,15 triliun, naik tipis dari tahun sebelumnya. Yang mengejutkan justru Bank Syariah, di mana pembiayaannya melonjak tajam hingga 72,02 persen menjadi Rp7,44 triliun.
OJK menilai lonjakan syariah ini berkat kerja keras tim percepatan akses keuangan daerah yang rajin blusukan edukasi ke warga. Hasilnya, literasi masyarakat soal ekonomi syariah di Ciayumajakuning bukan cuma sekadar tahu, tapi sudah mulai banyak yang pakai.
Untuk sektor pinjaman mikro dan gadai swasta, kondisinya sedikit variatif karena ada beberapa indikator yang mengalami kontraksi atau penurunan. Namun, gairah investasi di pasar modal justru meledak dengan jumlah investor mencapai 436 ribu orang, alias naik 40 persen lebih.
“Urusan curhat konsumen pun dilayani serius oleh OJK Cirebon yang menerima hampir 2.000 pengaduan dan konsultasi sepanjang tahun lalu. Menariknya, masalah pinjol (fintech lending) masih jadi topik yang paling banyak ditanyakan warga saat datang langsung ke kantor OJK,” beber Agus.
Profil pengadu juga beragam, mulai dari pegawai swasta, emak-emak rumah tangga, sampai mahasiswa yang mulai melek hak-hak keuangan mereka. Kabupaten Cirebon tercatat sebagai wilayah yang paling rajin berkonsultasi, disusul oleh warga Kota Cirebon di urutan kedua.
Tak sekadar mengawasi, OJK juga masif melakukan 229 kegiatan edukasi yang menyasar 43 ribu peserta, terutama kalangan pelajar. Langkah ini penting karena anak muda zaman sekarang sering jadi sasaran empuk produk keuangan yang belum tentu mereka pahami.
Bahkan ada program khusus “Gerak Syariah” saat Ramadan dan “Bulan Inklusi Keuangan” untuk memastikan warga tak terjerat rentenir. Lewat program K/PMR, OJK dan BPR setempat sudah mengucurkan Rp3 miliar untuk menyelamatkan UMKM dari jeratan lintah darat.***
Baca juga berita-berita menarik dialektika.id dengan klik Google News.






