Scroll untuk baca artikel
Ekonomi

Siasat Kuningan Hadapi Krisis Iklim, Targetkan Lahan Pekarangan Jadi Mesin Pangan Keluarga

×

Siasat Kuningan Hadapi Krisis Iklim, Targetkan Lahan Pekarangan Jadi Mesin Pangan Keluarga

Sebarkan artikel ini
Diskatan Kuningan dorong pekarangan rumah jadi lumbung pangan keluarga untuk perkuat ketahanan pangan, gizi, dan ekonomi rumah tangga.
Diskatan Kuningan dorong pekarangan rumah jadi lumbung pangan keluarga untuk perkuat ketahanan pangan, gizi, dan ekonomi rumah tangga.

DIALEKTIKA KUNINGAN — “Ternyata kunci menghadapi krisis pangan global bukan cuma ada di tangan para pemilik sawah hektaran. Di Kuningan, strategi itu justru dimulai dari tangan ibu-ibu yang memanfaatkan sudut pekarangan rumah mereka…”

Strategi mengamankan urusan perut di masa depan ternyata tidak boleh melulu mengandalkan hasil panen dari sawah yang luas. Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Diskatan) Kabupaten Kuningan, Dr. Wahyu Hidayah, menegaskan bahwa fondasi pertahanan pangan yang paling kokoh justru harus dimulai dari dapur dan pekarangan rumah tangga.

“Pekarangan itu aset yang sangat potensial untuk menghasilkan pangan bergizi, memperkuat ekonomi dapur, sekaligus menaikkan kualitas konsumsi masyarakat,” kata Wahyu saat berbicara dalam forum koordinasi daerah.

Wahyu menghendaki agar gerakan ini melahirkan perubahan konkret di lingkungan RT/RW, bukan sekadar berakhir menjadi tumpukan berkas laporan sosialisasi di meja kerja. Menurutnya, saat pekarangan warga mulai produktif, keluarga akan jauh lebih mandiri, gizi anak-anak tercukupi, dan otomatis target penurunan angka stunting di Kuningan bisa digenjot lebih cepat.

Tak tanggung-tanggung, momentum Hari Pangan Sedunia (HPS) yang akan datang sengaja dibidik Wahyu untuk memicu lahirnya budaya baru di tengah masyarakat dalam mengelola makanan. Peringatan tahunan tersebut ingin diubahnya menjadi pemantik gerakan massal agar warga semakin mencintai, memproduksi, dan mengolah sendiri pangan lokal secara kreatif demi kesejahteraan keluarga.

Komitmen besar inilah yang memicu Pemerintah Kabupaten Kuningan untuk memperkuat strategi ketahanan pangan dari level terbawah dengan menyulap lahan pekarangan rumah menjadi sumber gizi keluarga. Langkah taktis ini diambil sebagai respons nyata dalam menghadapi ancaman krisis iklim global sekaligus menyukseskan program penguatan pangan berbasis komunitas.

Gagasan matang tersebut dimatangkan dalam Rapat Koordinasi dan Sosialisasi Pemanfaatan Lahan Pekarangan serta Persiapan HPS Tahun 2026 yang digelar di Aula Diskanan Kuningan pada Rabu (15/7/2026).

Agenda penting ini dihadiri langsung oleh jajaran utama Diskanan Kuningan, Ketua TP PKK Kabupaten Kuningan Hj. Ela Helayati Dian, para pengurus PKK tingkat kecamatan, hingga puluhan penyuluh pertanian lapangan.

Pertemuan tersebut menyepakati satu poin penting: urusan menanam di halaman rumah bukan lagi sekadar hobi pengisi waktu luang, melainkan sudah masuk dalam radar strategi pembangunan daerah. Setiap jengkal tanah di sekitar rumah kini didorong menjadi lumbung pangan mandiri yang bisa memangkas pengeluaran belanja harian sekaligus membuka peluang bisnis rumahan.

Ketua TP PKK Kuningan, Hj. Ela Helayati Dian, menjelaskan bahwa gerakan masif ini berjalan beriringan dengan program KETAPANG MAS (Ketahanan Pangan Berbasis Masyarakat), revitalisasi Aku Hatinya PKK, serta gerakan tanam cabai di pekarangan (Gertam Cabe).

“Ketahanan pangan daerah itu tidak melulu urusan sawah yang luas, tapi dimulai dari halaman rumah sendiri agar tiap keluarga mandiri memenuhi kebutuhan dapurnya,” ujar Ela mengingatkan.

Sebagai langkah konkret pasca-rapat, Pemkab Kuningan bakal memanfaatkan perayaan HPS 2026 untuk mengampanyekan diversifikasi pangan lokal lewat lomba cipta menu dan edukasi inovatif. Targetnya adalah mendongkrak konsumsi pangan Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman (B2SA) dengan memaksimalkan potensi komoditas lokal seperti umbi-umbian, jagung, talas, hingga pisang agar punya nilai jual lebih tinggi.

Untuk memuluskan rencana tersebut di lapangan, dinas terkait sudah menyiapkan berbagai fasilitas stimulan bagi warga, mulai dari pembagian benih sayuran, polybag, tray semai, alat semprot, hingga menerjunkan penyuluh pertanian sebagai pendamping teknis.

Wahyu pun mengakui, keberhasilan program kejar tayang ini sangat bergantung pada militansi kader PKK di lapangan selaku mitra strategis yang bersentuhan langsung dengan ibu-ibu rumah tangga.

Lewat kerja ngeroyok antara pemda, kader PKK, dan para penyuluh, Kuningan kini sedang membuktikan komitmennya membangun kedaulatan pangan dari meja makan warga. Optimalisasi lahan sisa dan pemanfaatan pangan lokal diharapkan menjadi tameng kuat bagi masyarakat dalam menghadapi ketidakpastian pasokan pangan di masa depan.

Bagi jajaran Pemkab Kuningan, tolok ukur ketahanan pangan kini telah bergeser; bukan lagi cuma soal angka statistik produksi gabah, melainkan tentang seberapa mandiri sebuah keluarga dalam memenuhi kebutuhan gizinya secara berkelanjutan. Ujungnya, kemandirian pangan yang sesungguhnya memang harus tumbuh dari kepedulian setiap keluarga terhadap apa yang mereka tanam dan konsumsi setiap hari.***

Baca juga berita-berita menarik dialektika.id dengan klik Google News.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *