Scroll untuk baca artikel
Sosial

Duduk di Pematang Sawah, Diskatan Kuningan Ajak Petani Cikaso Basmi Hama Wereng

×

Duduk di Pematang Sawah, Diskatan Kuningan Ajak Petani Cikaso Basmi Hama Wereng

Sebarkan artikel ini
Pendekatan langsung ke petani jadi kunci Diskatan Kuningan kendalikan hama wereng di Cikaso, 20 hektare sawah terhindar dari ancaman puso.
Pendekatan langsung ke petani jadi kunci Diskatan Kuningan kendalikan hama wereng di Cikaso, 20 hektare sawah terhindar dari ancaman puso, (17/4/2026).

DIALEKTIKA KUNINGAN – Penanganan wereng di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, tak hanya soal penyemprotan, tapi juga bagaimana pemerintah hadir langsung di tengah petani.

Di Desa Cikaso, Kecamatan Kramatmulya, upaya pengendalian dilakukan di lahan sekitar 20 hektare yang terancam serangan hama.

Melalui Gerakan Pengendalian (Gerdal) OPT, penanganan dilakukan serentak agar dampaknya bisa langsung terasa di satu hamparan.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Diskatan) Kabupaten Kuningan, Dr. Wahyu Hidayah, Jumat (17/4/2026), memilih turun ke sawah, berbincang santai dengan petani tanpa sekat.

Di pematang, percakapan berlangsung apa adanya—petani menyampaikan kondisi riil, pemerintah mencoba memberi solusi yang masuk akal.

“Kalau tidak bareng-bareng, pengendalian biasanya tidak efektif,” ujar Wahyu.

Ia menegaskan, wereng daun hijau bukan sekadar hama pengganggu, tapi juga pembawa penyakit yang bisa menekan hasil panen.

Risikonya tidak kecil—dari penurunan produksi hingga gagal panen jika tidak segera dikendalikan.

Di lapangan, pendekatan yang dipakai bukan instan, melainkan berbasis Pengendalian Hama Terpadu (PHT).

Petani didorong memahami siklus hama, bukan hanya bergantung pada pestisida.

Langkah yang dilakukan mulai dari pemantauan populasi, pengaturan pola tanam serempak, hingga memanfaatkan musuh alami.

Pestisida tetap digunakan, namun hanya sebagai bagian dari strategi, bukan satu-satunya cara.

Penggunaannya pun diingatkan agar tepat sasaran, tidak berlebihan, dan tidak merusak lingkungan.

Sebagai dukungan, bantuan pestisida disalurkan untuk lahan terdampak seluas 20 hektare.

Selain itu, langkah pencegahan ikut diperkuat, seperti penggunaan varietas tahan dan pengelolaan air yang lebih tertib.

Sanitasi lahan juga jadi perhatian agar siklus hama tidak terus berulang.

Kegiatan diakhiri dengan penyemprotan serentak, melibatkan petani dan petugas di lapangan.

Respons petani cukup positif, terutama karena mereka merasa dilibatkan, bukan sekadar diberi instruksi.

Bagi mereka, kehadiran langsung pemerintah memberi rasa yakin dalam menghadapi ancaman hama.

Kuningan menaruh harapan pada pola kerja bersama ini—bahwa pengendalian wereng tak cukup cepat, tapi juga harus tepat dan dipahami petani.***

Baca juga berita-berita menarik dialektika.id dengan klik Google News.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *