DIALEKTIKA KUNINGAN — Indonesia berduka. Try Sutrisno, Jenderal TNI (Purn) yang pernah menjabat Panglima ABRI dan Wakil Presiden ke-6 RI, wafat pada Senin, 2 Maret 2026, dalam usia 90 tahun.
Kepergiannya mengakhiri perjalanan panjang seorang prajurit yang meniti karier dari bawah hingga mencapai pucuk pimpinan militer dan pemerintahan. Jenazah disemayamkan di rumah duka di Jalan Purwakarta, Menteng, Jakarta Pusat, sebelum dimakamkan.
Lahir di Surabaya, 15 November 1935, Try Sutrisno tumbuh dalam keluarga sederhana. Lingkungan itulah yang membentuk wataknya—disiplin, keras, dan teguh pada pilihan hidupnya.
Pernah Jadi Kurir di Masa Agresi Militer
Masa kecilnya diwarnai situasi genting saat agresi militer Belanda memaksa keluarganya pindah ke Mojokerto. Pendidikan sempat terhenti, dan ia membantu keluarga dengan berjualan rokok, koran, hingga air minum di stasiun.
Di usia 13 tahun, keinginannya bergabung dengan Batalyon Poncowati untuk melawan Belanda belum dianggap serius karena faktor usia. Namun ia tak mundur.
Ia kemudian dipercaya menjadi kurir, menyusup mencari informasi di wilayah pendudukan Belanda dan mengambil obat untuk kebutuhan pasukan. Pengalaman itu membentuk mentalnya sejak dini.
Turun ke Medan Tempur Sebelum Lulus Akademi
Tahun 1956, ia diterima sebagai taruna Akademi Teknik Angkatan Darat. Belum dua tahun belajar, ia sudah dikirim ke operasi militer.
Pada 1957, ia terlibat dalam operasi menghadapi PRRI di Sumatera—pengalaman tempur pertamanya sebelum lulus resmi pada 1959.
Tahun 1962, ia ikut Operasi Pembebasan Irian Barat dan berinteraksi dengan Mayor Jenderal Soeharto, Panglima Komando Mandala saat itu. Hubungan profesional itu berlanjut di masa-masa berikutnya.
Penugasannya tersebar di Sumatera, Jakarta, hingga Jawa Timur. Pada 1972, ia menempuh pendidikan di Seskoad untuk memperdalam strategi militer.
Karier Melesat hingga Panglima ABRI
Tahun 1974, Try Sutrisno dipercaya menjadi ajudan Presiden Soeharto, jabatan yang membuka jalan ke posisi strategis lain.
Ia pernah memimpin Kodam IV/Sriwijaya dan Kodam V/Jaya sebelum diangkat sebagai Wakil Kepala Staf Angkatan Darat pada 1985. Setahun kemudian, ia menjabat KSAD.
Pada April 1987, ia resmi menyandang pangkat jenderal. Awal 1988, ia ditunjuk menjadi Panglima ABRI menggantikan L. B. Moerdani dan memimpin hingga 1993.
Di masa itu, ABRI masih mencakup TNI dan Polri. Situasi keamanan di Aceh kembali memanas pada 1989, dan dunia internasional menyorot Indonesia usai insiden Santa Cruz di Timor Timur tahun 1991.
Insiden Dili dan Sorotan Dunia
Peristiwa Dili 1991, yang dikenal sebagai Insiden Santa Cruz, terjadi saat Try Sutrisno menjabat Panglima ABRI. Penembakan terhadap demonstran memicu kecaman luas dari berbagai negara.
Ia kala itu menyatakan tindakan aparat dianggap perlu demi menjaga keamanan, pernyataan yang memantik kontroversi di tengah tekanan politik global.
Terpilih Jadi Wakil Presiden
Pada Sidang Umum MPR 1993, ia dicalonkan Fraksi ABRI dan terpilih menjadi Wakil Presiden ke-6 RI periode 1993–1998 mendampingi Presiden Soeharto.
Namanya sempat tak disebut sebagai kandidat utama, karena publik kala itu lebih banyak membicarakan B. J. Habibie. Namun dinamika politik membawa Try ke kursi orang nomor dua di republik ini.
Jejak pengabdiannya berlanjut di keluarga. Putranya, Kunto Arief Wibowo, kini berpangkat mayor jenderal, sementara Irjen Pol Firman Santyabudi pernah menjabat Kakorlantas Polri.
Menjelang akhir hayatnya, namanya sempat ramai di media sosial terkait isu momen Presiden Joko Widodo tidak menyalaminya saat HUT ke-79 TNI pada 2024. Pihak Istana menjelaskan keduanya telah bertemu dan bersalaman sebelumnya di ruang VVIP.
Dimakamkan di TMP Kalibata
Jenazah Try Sutrisno akan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata setelah disalatkan di Masjid Agung Sunda Kelapa.
Sebelumnya, ia dirawat di RSPAD Gatot Subroto sejak 16 Februari hingga akhirnya wafat pada 2 Maret 2026.
Sejumlah tokoh terlihat melayat, di antaranya Wiranto, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, Panglima TNI Agus Subiyanto, serta Menko Perekonomian Airlangga Hartarto.
Pihak keluarga memohon doa dan maaf atas segala kekhilafan almarhum semasa hidupnya.
Dari kurir di masa agresi militer hingga Panglima ABRI dan Wakil Presiden, perjalanan Try Sutrisno menjadi bagian dari catatan panjang sejarah Indonesia.***
Baca juga berita-berita menarik dialektika.id dengan klik Google News.






