DIALEKTIKA KUNINGAN — Memperingati Hari Pahlawan Nasional, Presiden RI Prabowo Subianto secara resmi mengumumkan sepuluh tokoh bangsa yang dianugerahi gelar Pahlawan Nasional.
Penghargaan melalui Keppres Nomor 116.TK/Tahun 2025 ini diberikan atas jasa luar biasa mereka yang berjuang demi kemerdekaan, keadilan, dan pembangunan.
Presiden Prabowo menegaskan di Istana Negara bahwa penganugerahan ini adalah pengakuan negara, sebab “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa para pahlawannya.”
Penghormatan tersebut menjadi pengingat moral bagi generasi muda agar melanjutkan semangat perjuangan mereka dengan terus berkontribusi bagi bangsa.
Gus Dur dan Soeharto Jadi Simbol Pluralisme-Pembangunan
Mantan Presiden RI ke-4, K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), dianugerahi gelar Pahlawan Nasional sebagai simbol pluralisme dan toleransi.
Gus Dur dinilai berperan besar menyelaraskan Islam dan Pancasila, bahkan “mampu mengurai bahwa Islamlah yang memberi ruh bagi Pancasila.”
Presiden ke-2 RI, Jenderal Besar TNI H.M. Soeharto, masuk daftar berkat perannya di Serangan Umum 1 Maret 1949 dan Operasi Trikora 1962.
Soeharto juga dikenang karena memperkenalkan konsep Trilogi Pembangunan (stabilitas, pertumbuhan, dan pemerataan) yang menjadi arah dasar pembangunan nasional di masanya.
Marsinah, Martir Buruh Perempuan
Dari kalangan rakyat, Marsinah, aktivis buruh, diakui sebagai simbol perlawanan terhadap ketidakadilan dan martir demokrasi industri.
Tragedi kematiannya pada Mei 1993 menjadi titik penting dalam sejarah perjuangan buruh Indonesia dalam menegakkan hak asasi manusia.
Diplomat dan Pelopor Pendidikan
Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja, diplomat, mendapat gelar atas jasanya merumuskan Konsep Negara Kepulauan yang diakui UNCLOS 1982.
Ia dikenal memperjuangkan kedaulatan hukum Indonesia di forum internasional saat menjabat Menteri Kehakiman dan Menteri Luar Negeri.
Hajjah Rahmah El Yunusiyah dianugerahi gelar karena mendirikan Perguruan Diniyah Putri pada 1923, sekolah khusus perempuan pertama di dunia Islam.
Perjuangan Rahmah dalam pendidikan perempuan bahkan menginspirasi pendirian fakultas perempuan di Universitas Al-Azhar Kairo.
Tokoh Militer hingga Ulama Karismatik
Jenderal TNI (Purn) Sarwo Edhie Wibowo diapresiasi atas perannya menjaga stabilitas pasca 1965 dan menanamkan disiplin sebagai Gubernur Akademi Militer.
Selain itu, Sultan Muhammad Salahuddin (Bima), Tuan Rondahaim Saragih (Simalungun), dan Sultan Zainal Abidin Syah (Gubernur pertama Irian Barat) diakui atas perjuangan melawan kolonialisme dan menjaga integrasi.
Syaikhona Muhammad Kholil, ulama karismatik dari Bangkalan, diakui sebagai “guru para ulama” yang berkontribusi besar pada pendidikan pesantren.
Upacara yang dihadiri Wakil Presiden Gibran dan jajaran Kabinet ini ditutup dengan penegasan Presiden Prabowo: “Semangat dan nilai perjuangan mereka tidak boleh padam,” ucapnya.***
Baca juga berita-berita menarik dialektika.id dengan klik Google News.






