Scroll untuk baca artikel
Ekonomi

Boled Kuningan Tembus 42 Ton per Hektare, Bupati Dian Launching GEMBOL

×

Boled Kuningan Tembus 42 Ton per Hektare, Bupati Dian Launching GEMBOL

Sebarkan artikel ini
Boled Kuningan tembus 42 ton per hektare. Bupati Dian meluncurkan GEMBOL untuk mendorong produktivitas dan nilai tambah petani.
Boled Kuningan tembus 42 ton per hektare. Bupati Dian meluncurkan GEMBOL untuk mendorong produktivitas dan nilai tambah petani.

DIALEKTIKA KUNINGAN — Ubi jalar Kuningan mulai menunjukkan kelasnya. Dari lahan demplot, produktivitas boled yang sebelumnya berkisar 20–25 ton per hektare melonjak hingga sekitar 42 ton. Angka itu kini dijadikan pijakan Pemkab Kuningan untuk membawa ubi jalar bukan sekadar hasil panen, tetapi masuk ke rantai nilai dari lahan sampai pasar.

Ubi jalar atau boled mulai menunjukkan potensi besar sebagai penggerak ekonomi petani Kuningan. Hasil demplot yang dipanen mencatat produktivitas sekitar 42 ton per hektare, naik dari kisaran 20–25 ton per hektare sebelumnya.

Kenaikan tersebut menjadi salah satu pijakan Pemerintah Kabupaten Kuningan meluncurkan GEMBOL atau Gerakan Menanam Boled. Program ini diarahkan bukan hanya untuk meningkatkan produksi, tetapi juga membuka nilai tambah dari hasil pertanian hingga sampai ke pasar.

Jika memakai angka pembanding produktivitas 25 ton per hektare, terdapat tambahan produksi sekitar 17 ton pada setiap hektare lahan. Dengan asumsi harga ubi jalar Rp4.000 per kilogram, tambahan produksi itu memiliki nilai bruto sekitar Rp68 juta per hektare.

Bupati Kuningan Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, M.Si., meluncurkan GEMBOL pada rangkaian Sosialisasi Demplot Pertanian, Pengembangan Kapasitas Kelembagaan Petani, serta Penyerahan Bantuan Sarana Produksi Pertanian Tahun 2026 di Lapangan Upacara Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Diskatan) Kabupaten Kuningan, Senin (21/9/2026).

Sekitar 300 petani dari 14 kecamatan mengikuti kegiatan tersebut. Hadir pula Kepala Diskatan Kuningan Dr. Wahyu Hidayah, M.Si., jajaran Diskatan, para Kepala UPTD KPP, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), kelompok tani, Gapoktan, serta pelaku sektor pertanian.

Bagi Dian, pertanian tidak semata urusan produksi, tetapi berkaitan langsung dengan kehidupan dan masa depan masyarakat.

“Ketika kita berbicara tentang pertanian, sesungguhnya kita sedang berbicara tentang kehidupan dan masa depan. Pangan lahir dari tanah yang diolah, benih yang ditanam, air yang dijaga, dan tangan-tangan petani yang setiap hari bekerja dengan ketekunan,” ujar Dian.

Ia menilai peningkatan produktivitas harus menjadi pintu masuk untuk memperkuat ekonomi petani. Pengembangan ubi jalar karena itu tidak boleh berhenti pada aktivitas menanam dan memanen.

“Jangan berhenti pada produksi. Kita harus berpikir tentang pascapanen, pengolahan, pemasaran dan hilirisasi. Dengan begitu, komoditas pertanian dapat memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi petani,” katanya.

Dian menegaskan GEMBOL perlu tumbuh sebagai gerakan berkelanjutan yang melibatkan seluruh ekosistem pertanian, mulai dari petani, penyuluh, kelembagaan, pemerintah, pelaku usaha hingga pasar.

Kuningan Punya Kawasan Ubi Jalar 2.530 Hektare

Kepala Diskatan Kabupaten Kuningan Dr. Wahyu Hidayah mengatakan GEMBOL memiliki basis potensi yang cukup kuat. Kuningan telah ditetapkan sebagai bagian dari Kawasan Pertanian Nasional berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor 02/Kpts/RC.040/M/01/2025.

Kawasan tersebut mencakup sejumlah komoditas tanaman pangan, yakni padi seluas 27.716 hektare, jagung 2.500 hektare, ubi kayu 1.182 hektare, serta ubi jalar yang mencapai 2.530 hektare.

“Penetapan kawasan pertanian nasional bukan sekadar angka dalam dokumen. Ini adalah amanah, peluang sekaligus tanggung jawab yang harus kita isi dengan produktivitas, inovasi, penguatan kelembagaan, peningkatan kualitas dan kesejahteraan petani,” ujar Wahyu.

Menurut dia, hasil demplot harus bisa diterjemahkan menjadi pengetahuan yang dapat diterapkan petani lain. Penerapannya tetap perlu menyesuaikan kondisi agroekosistem masing-masing lahan dan didukung pendampingan teknis.

“Pertanian bukan sekadar sektor ekonomi. Pertanian adalah fondasi pangan, sumber penghidupan masyarakat, sekaligus bagian penting dari masa depan daerah. Karena itu, yang kita bangun bukan hanya produksi, tetapi juga kekuatan petani, ketahanan pangan dan kemandirian Kabupaten Kuningan,” katanya.

300 Petani Ubi Jalar Dapat Dukungan Sarana Produksi

Penguatan budidaya juga dilakukan melalui penyerahan bantuan sarana produksi pertanian kepada 300 petani ubi jalar. Bantuan tersebut meliputi sarana pemupukan dan pengendalian organisme pengganggu tanaman.

Sejumlah sarana yang disalurkan antara lain Insektisida Purdan Plus, Fungisida Benazeb, Insektisida BM Promax, Insektisida Benape, Pupuk Futura, Pupuk Fruitka, Pupuk Impetus dan Pupuk Solutus.

Wahyu menekankan bantuan tersebut tidak boleh berhenti sebagai kegiatan pembagian barang. Ada target yang harus dicapai, yakni peningkatan produktivitas dan keuntungan usaha tani.

“Pupuk dan sarana produksi adalah input. Tujuan akhirnya bukan pupuk, tetapi produksi. Dan produksi pun bukan tujuan akhir. Tujuan akhirnya adalah usaha tani yang lebih produktif, lebih menguntungkan, dan keluarga petani yang semakin sejahtera,” tegasnya.

Pendampingan tetap menjadi bagian penting agar teknologi dan inovasi yang diberikan tidak berhenti sebagai teori, tetapi benar-benar dipahami dan diterapkan petani.

Demplot Buktikan Produktivitas Boled Bisa Didorong

Pemkab Kuningan menempatkan demplot sebagai ruang belajar bagi petani sekaligus tempat menguji penerapan teknologi dan inovasi pertanian secara langsung.

Bupati Dian meminta lahan percontohan tersebut tidak berhenti menjadi lokasi untuk melihat hasil. Petani harus bisa mempelajari teknik yang diterapkan dan menyesuaikannya dengan kondisi lahan masing-masing.

“Demplot harus menjadi tempat belajar. Bantuan harus menjadi sarana meningkatkan produksi. Dan kelembagaan petani harus menjadi kekuatan bersama,” ujar Dian.

Ia juga meminta jajaran pertanian, mulai dari UPTD hingga penyuluh, memastikan pengetahuan dan inovasi benar-benar sampai ke tangan petani.

“Ilmu harus turun ke sawah. Teknologi harus sampai kepada petani. Inovasi harus menjadi perubahan nyata dalam cara bertani,” tegasnya.

Petani Rasakan Langsung Hasil Demplot

M. Bangun, salah seorang petani peserta, mengatakan perubahan produktivitas terlihat setelah teknik budidaya diterapkan melalui demplot. Sebelumnya, hasil ubi jalar berada pada kisaran 20–25 ton per hektare, sedangkan hasil panen demplot mencapai sekitar 42 ton per hektare.

“Sebelumnya produktivitas boled kami sekitar 20 sampai 25 ton per hektare. Setelah mengikuti demplot dan menerapkan teknik budidaya yang diarahkan, hasil panen bisa mencapai sekitar 42 ton per hektare,” ujar Bangun.

Jika menggunakan angka 25 ton sebagai pembanding, kenaikan tersebut berarti tambahan produksi sekitar 17 ton per hektare. Dengan asumsi harga Rp4.000 per kilogram, tambahan produksi itu setara nilai bruto sekitar Rp68 juta per hektare.

Angka tersebut merupakan tambahan nilai produksi dan belum dikurangi biaya usaha tani. Artinya, tambahan keuntungan bersih yang diterima petani tetap bergantung pada struktur biaya masing-masing.

Bagi Bangun, hasil demplot memberikan gambaran nyata bahwa peningkatan produktivitas dapat membuka peluang pendapatan yang lebih besar.

“Bagi kami, ini yang paling penting. Demplot bukan hanya tempat melihat teori, tetapi kami bisa melihat langsung hasilnya. Kalau produktivitas meningkat, tentu peluang pendapatan petani juga semakin besar,” katanya.

Ia berharap teknik dan teknologi yang sudah diterapkan tidak berhenti pada lahan percontohan. Pendampingan dan penerapan serupa di lahan petani lain dinilai penting agar hasilnya bisa dirasakan lebih luas.

“Kami petani siap mengikuti inovasi. Harapannya, teknologi dan cara budidaya yang sudah diterapkan di demplot ini bisa terus didampingi dan diterapkan di lahan petani lainnya. Kalau produksinya meningkat dan pasarnya semakin terbuka, manfaatnya akan semakin terasa bagi petani,” ujarnya.

GEMBOL Tak Berhenti pada Panen

Wahyu mengingatkan peningkatan produktivitas baru satu bagian dari pekerjaan besar pengembangan ubi jalar. Setelah produksi naik, persoalan berikutnya adalah bagaimana hasil panen terserap pasar dan menghasilkan nilai tambah lebih besar.

Karena itu, GEMBOL diarahkan untuk memperkuat rantai nilai ubi jalar sejak budidaya, peningkatan produktivitas, pascapanen, pengolahan, pemasaran hingga hilirisasi.

“Petani jangan hanya menjadi produsen. Kita harus mendorong petani menjadi pelaku usaha pertanian. Nilai tambah jangan berhenti di lahan, tetapi bergerak sampai pengolahan dan pasar,” ujar Wahyu.

Keberhasilan GEMBOL nantinya tidak hanya dilihat dari luas tanam atau jumlah produksi. Produktivitas, kualitas hasil, nilai tambah dan peningkatan kesejahteraan petani menjadi bagian yang ikut menentukan capaian program tersebut.

Peluncuran GEMBOL sekaligus menjadi bagian dari upaya Pemkab Kuningan membangun pertanian berbasis komoditas secara lebih terintegrasi. Rangkaian kegiatan ditutup dengan penyerahan bantuan sarana produksi pertanian secara simbolis oleh Bupati Dian didampingi Kepala Diskatan kepada perwakilan petani.

Lewat GEMBOL, ubi jalar didorong naik kelas, bukan hanya sebagai komoditas pangan yang dipanen dari lahan, tetapi sebagai sumber nilai tambah bagi petani dan ekonomi daerah.

Target akhirnya bukan sekadar boled tumbuh subur di kebun. Produksi meningkat, pasar terbuka, pengolahan bergerak, dan manfaat ekonominya kembali kepada petani.***

Baca juga berita-berita menarik dialektika.id dengan klik Google News.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *