Scroll untuk baca artikel
EkonomiTech

UT Dorong Mahasiswa Siap Hadapi AI, Bangun Kompetensi dan Berani Jadi Entrepreneur

×

UT Dorong Mahasiswa Siap Hadapi AI, Bangun Kompetensi dan Berani Jadi Entrepreneur

Sebarkan artikel ini
Universitas Terbuka (UT) dorong mahasiswa tak sekadar mengejar ijazah, tetapi membangun kompetensi, berwirausaha dan siap menghadapi era AI.
Universitas Terbuka (UT) dorong mahasiswa tak sekadar mengejar ijazah, tetapi membangun kompetensi, berwirausaha dan siap menghadapi era AI.

DIALEKTIKA KUNINGAN — Universitas Terbuka (UT) kembali menegaskan bahwa kuliah bukan sekadar urusan mengejar ijazah. Bagi mahasiswa yang belajar sambil bekerja dan mengurus keluarga, pendidikan justru bisa menjadi pintu untuk membangun kompetensi, menciptakan usaha hingga memberi dampak bagi masyarakat.

UT kembali mendorong mahasiswanya melihat pendidikan dari sudut pandang yang lebih luas. Kuliah bukan hanya jalan untuk mendapatkan ijazah atau mencari pekerjaan, tetapi juga bekal membangun kompetensi, menciptakan peluang, membuka lapangan kerja dan memberi manfaat bagi masyarakat.

Pesan tersebut mengemuka saat kegiatan Layanan Pendukung Kesuksesan Belajar Jarak Jauh (LPKBJJ) Universitas Terbuka Bandung bagi mahasiswa yang berdomisili di Kabupaten Kuningan, Minggu (16/8/2026). Kegiatan berlangsung di Aula SMKN 3 Kuningan dengan menghadirkan Bupati Kuningan Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, M.Si. sebagai narasumber.

LPKBJJ menjadi bagian dari pembekalan UT bagi mahasiswa yang menjalani sistem pendidikan tinggi terbuka dan jarak jauh. Materinya mencakup keterampilan belajar mandiri, strategi belajar, pemanfaatan layanan pembelajaran hingga penyelesaian berbagai persoalan yang muncul selama menempuh studi.

Bagi UT, pola pembelajaran jarak jauh bukan berarti mahasiswa berjalan sendirian. Dukungan belajar tetap diberikan agar mahasiswa mampu mengatur waktu, memahami sistem perkuliahan dan menjaga konsistensi sampai menyelesaikan pendidikan.

Hal itu menjadi penting bagi mahasiswa yang harus membagi waktu antara kuliah, pekerjaan dan keluarga. Apresiasi pun disampaikan kepada mereka yang tetap memilih melanjutkan pendidikan meski harus menghadapi berbagai kesibukan.

“Pendidikan itu sepanjang hayat masih dikandung badan. Kita harus terus belajar sampai akhir hayat,” ujar Bupati Dian saat memberikan pemaparan.

Pesan tersebut sekaligus mengingatkan mahasiswa UT bahwa gelar akademik bukan garis akhir. Pendidikan justru seharusnya memperluas wawasan dan membangun keberanian untuk menciptakan pekerjaan maupun mengembangkan usaha.

Ukuran keberhasilan seseorang juga tidak berhenti pada gelar S1, S2 atau S3. Ilmu yang dimiliki akan jauh lebih berarti ketika mampu digunakan untuk membantu dan memberikan manfaat bagi orang lain.

“Setinggi apa pun gelar S1, S2, S3, keberhasilan, kebahagiaan, keberkahan tidak diukur dari strata sarjana yang kita peroleh. Tetapi sampai sejauh mana kita bermanfaat bagi orang lain,” tuturnya.

Perspektif tersebut menjadi semakin relevan bagi mahasiswa UT yang berada di Kabupaten Kuningan. Daerah dengan jumlah penduduk sekitar 1,2 juta jiwa itu memiliki potensi sumber daya manusia yang besar dan dapat menjadi kekuatan untuk menggerakkan pembangunan.

Namun, kualitas pendidikan masih menjadi pekerjaan yang harus terus didorong. Rata-rata lama sekolah masyarakat Kuningan disebut berada pada kisaran 7,9 tahun atau setara kelas dua SMP.

“Artinya SMP kelas dua. Ini yang perlu kita dorong dan kita tingkatkan sehingga bisa kompetitif, bisa bersaing di situasi global saat ini,” jelasnya.

Potensi daerah juga menjadi bagian dari pembahasan. Pertanian, kopi, ubi jalar, kenikir hingga pariwisata merupakan sejumlah sektor yang dinilai memiliki peluang untuk berkembang jika diikuti peningkatan kemampuan masyarakat.

Kebutuhan terhadap sumber daya manusia yang lebih kompeten menjadi semakin besar ketika investasi mulai berkembang. Masyarakat lokal diharapkan tidak hanya mengisi posisi pekerjaan dasar, tetapi mampu mengambil peran yang lebih strategis sekaligus menciptakan usaha sendiri.

Sejumlah cerita tentang pengusaha muda asal Kuningan turut dibagikan untuk menggambarkan bahwa keterbatasan ekonomi bukan alasan untuk berhenti berkembang. Keberanian, ketekunan dan kemampuan membaca peluang justru menjadi modal penting ketika seseorang ingin membangun usaha.

Salah satu cerita yang disampaikan berkaitan dengan anaknya yang memilih jalur kewirausahaan meski memiliki kesempatan menjadi dokter ASN. Pilihan tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan tidak selalu harus ditempuh melalui jalur pekerjaan formal.

“Dia bilang, ‘Saya tidak mau bekerja di orang, saya ingin mempekerjakan orang.’ Nah, ini yang saya maksud. Jiwa entrepreneur, pendidikan itu mudah-mudahan bisa membuka kotak pandora mindset kita untuk berwirausaha,” ujarnya.

Cerita seperti itu menjadi pesan tersendiri bagi mahasiswa UT. Pendidikan diharapkan tidak hanya mengubah cara seseorang mencari pekerjaan, tetapi juga mengubah cara melihat peluang yang ada di sekitarnya.

Tantangan lain datang dari perkembangan teknologi yang bergerak semakin cepat. Kehadiran kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) telah mengubah cara manusia belajar, bekerja, berkomunikasi hingga menjalankan bisnis.

Mahasiswa pun dituntut mampu beradaptasi tanpa kehilangan kemampuan untuk menggunakan teknologi secara bijak. Penguasaan teknologi perlu berjalan bersama kemampuan berpikir kritis dan kecakapan menghadapi perubahan.

“Tidak cukup ijazah untuk menyongsong masa depan. Harus beradaptasi dengan perkembangan zaman,” katanya.

Generasi muda saat ini juga dinilai memiliki ruang yang lebih luas untuk berkembang dibandingkan generasi sebelumnya. Berbagai profesi baru bermunculan dan teknologi memungkinkan seseorang membangun bisnis sekaligus menawarkan karya ke pasar global tanpa harus mengikuti pola pekerjaan konvensional.

Karena itu, mahasiswa UT didorong tidak hanya membangun kemampuan intelektual. Kecerdasan emosional, sosial dan spiritual juga dianggap penting agar kompetensi yang diperoleh dari bangku kuliah dapat digunakan secara tepat.

Menjelang akhir pemaparan, tiga pesan utama disampaikan kepada mahasiswa Universitas Terbuka. Pesan pertama adalah menyelesaikan apa yang sudah dimulai.

Mahasiswa diminta tidak mudah menyerah ketika menghadapi tugas, kesulitan maupun kegagalan selama menjalani proses pendidikan. Kuliah jarak jauh membutuhkan kedisiplinan dan kemauan untuk terus melangkah sampai tujuan tercapai.

Pesan kedua, jangan pernah berhenti belajar. Ijazah bukan tanda bahwa proses pendidikan selesai, melainkan titik awal untuk terus mengembangkan kemampuan.

Pesan terakhir terdengar sederhana, tetapi memiliki makna yang luas: jadilah manusia yang bermanfaat. “Jadilah manusia yang bermanfaat. Kalau bahasa keyakinan kita, khairunnas anfa’uhum linnas, sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat,” ungkapnya.

Mahasiswa juga diminta tidak takut memiliki mimpi, termasuk ketika harus melewati proses panjang dan menghadapi kegagalan. “Ulah sieun kanu ngimpi, jangan pernah takut untuk bermimpi, jangan pernah takut untuk berproses, jangan pernah takut untuk menghadapi kegagalan, dan jangan pernah berhenti untuk melangkah,” pesannya.

Semangat tersebut sejalan dengan misi pendidikan UT yang memberi kesempatan kepada masyarakat untuk tetap menempuh pendidikan tinggi dengan sistem pembelajaran terbuka dan jarak jauh. Harapannya, mahasiswa tidak hanya menyelesaikan studi, tetapi membawa kompetensi yang diperoleh untuk memberi kontribusi nyata bagi lingkungan dan daerah.

Kegiatan LPKBJJ UT Bandung itu turut dihadiri Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kuningan Dr. H. Elon Carlan, S.Pd., M.MPd., Direktur UT Bandung Drs. Enceng, M.Si., Manajer Pembelajaran UT Bandung Zulham Adamy, S.H., M.H., Ketua Sentra Layanan UT Iin Luginawati, M.Si., serta mahasiswa Universitas Terbuka yang mengikuti kegiatan secara langsung maupun daring.

Bagi Universitas Terbuka, pendidikan jarak jauh bukan sekadar model perkuliahan. Lebih jauh, ruang belajar tersebut menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk terus bertumbuh, beradaptasi dengan perubahan dan membawa ilmu yang diperoleh menjadi sesuatu yang benar-benar berguna.***

Baca juga berita-berita menarik dialektika.id dengan klik Google News.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *