DIALEKTIKA KUNINGAN — Hampir semua harga bumbu dapur dan daging di pasar Kuningan lagi ugal-ugalan jelang Iduladha, tapi untungnya pemkab langsung pasang badan lewat operasi pasar murah.
Langkah cepat diambil Pemerintah Kabupaten Kuningan untuk mengerem laju inflasi pangan yang biasanya melonjak drastis mendekati Hari Raya Iduladha 2026. Lewat Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Diskatan), mereka langsung meluncurkan program Gerakan Pangan Murah (GPM) bertajuk DIRAHMATI demi mengamankan isi dompet masyarakat.
Program ini sengaja dipasang sebagai benteng pertahanan pertama untuk mengintervensi pasar, mengingat tren harga sejumlah bahan pokok di pasaran sudah mulai merangkak naik.
Tepat pada Kamis (21/5/2026), agenda GPM ini ternyata sudah memasuki hari keempat secara maraton, dimulai dari Desa Jalatrang (18 Mei), Desa Bangunjaya (19 Mei), Desa Pancalang (20 Mei), hingga menyasar Desa Ciangir di Kecamatan Cibingbing.
Tak heran kalau di setiap lokasi yang didatangi, ratusan warga langsung menyerbu stan jualan sampai membuat pasokan beras, minyak goreng, cabai, telur, hingga daging ludes dalam waktu singkat.
Kalau menilik data harga di pasar konvensional per 21 Mei 2026, angka-angka yang tersaji memang cukup menguras kantong konsumen di Kuningan. Bayangkan saja, cabai rawit merah sudah menyentuh Rp80.000/kg, bawang merah di angka Rp45.000/kg, sementara daging sapi segar masih nangkring di kisaran Rp140.000/kg.
Melihat kondisi yang kurang berpihak pada konsumen itu, Pemkab Kuningan langsung membanting harga lewat GPM Iduladha dengan selisih yang lumayan jomplang. Di program ini, beras premium dilepas hanya Rp12.000/kg, bawang merah dipangkas jadi Rp35.000/kg, lalu daging sapi segar dipatok Rp125.000/kg saja.
Potongan harga yang cukup tebal ini jelas menjadi angin segar bagi emak-emak yang pusing mengatur uang belanja bulanan di tengah kepungan harga yang tinggi.
Biar distribusinya merata dan gak kurang, setiap titik operasi pasar ini rata-rata dipasok komoditas jumbo, termasuk menyalurkan sekitar 4,3 ton beras dan 1.000 liter minyak goreng.
Bupati Kuningan, Dr. Dian Rachmat Yanuar, M.Si., menegaskan kalau urusan perut warga dan inflasi pangan gak bisa cuma diselesaikan di atas kertas atau lewat rapat formal saja.
“Kami harus bergerak lebih gesit di lapangan sebelum harga di pasar makin liar, jadi masyarakat masih bisa membeli kebutuhan pokok dengan harga yang masuk akal,” ujar Dian saat memantau situasi.
Dian juga menambahkan bahwa GPM Iduladha ini menjadi bukti konkret kalau pemerintah daerah tidak tinggal diam melihat daya beli masyarakatnya mulai melemah.
Bagi Dian, esensi dari kestabilan ekonomi daerah itu berawal dari kemampuan masyarakat dalam menjangkau harga makanan pokok harian mereka.
Apalagi momen keagamaan seperti Iduladha selalu memicu lonjakan permintaan, sehingga pasokan barang di tingkat bawah harus benar-benar dipastikan aman dan jalurnya lancar.
Gerakan pangan murah ini juga diklaim sejalan dengan visi besar Kabupaten Kuningan MELESAT, utamanya dalam membangun ketangguhan ekonomi dari sektor paling dasar.
“Ketahanan pangan itu bukan cuma barangnya ada di gudang, tapi bagaimana warga bisa membelinya dengan harga murah. Itu fokus kami,” imbuhnya.
Setali tiga uang, Wakil Bupati Kuningan, Hj. Tuti Andriani, SH., M.Kn., yang sempat turun langsung di Desa Bangunjaya mengaku kaget sekaligus senang melihat antusiasme warga yang begitu tinggi.
Tuti menilai kehadiran pasar murah ini sukses memberikan rasa tenang bagi para ibu rumah tangga yang sempat cemas memikirkan menu hidangan lebaran nanti.
Sementara itu, Kepala Diskatan Kuningan, Dr. Wahyu Hidayah, M.Si., menyebut kalau operasi pasar ini sengaja didesain untuk meredam potensi gejolak harga sejak dini sebelum terlambat.
“Begitu ada indikasi harga pasar mulai naik, kami wajib hadir untuk menyeimbangkan keadaan agar psikologis pasar tetap terjaga,” urai Wahyu.
Wahyu mengklaim, seluruh jenis komoditas yang dibawa ke tiap desa sudah disesuaikan dengan data kebutuhan riil di wilayah tersebut, sehingga dipastikan tepat sasaran.
Dengan strategi intervensi yang terukur ini, pemerintah daerah optimistis bisa mengerem kepanikan konsumen dan menjaga stabilitas harga secara makro.
Bagi warga yang wilayahnya belum kebagian jangan khawatir, karena Pemkab memastikan program ini masih bergulir hingga 23 Mei 2026, dengan rute selanjutnya ke Desa Citapen di Kecamatan Hantara dan Desa Linggasana di Kecamatan Cilimus.
Kehadiran GPM Iduladha ini pada akhirnya menjadi bukti kalau intervensi langsung di lapangan jauh lebih efektif untuk menjaga ketahanan ekonomi warga dibanding sekadar memantau dari jauh.***
Baca juga berita-berita menarik dialektika.id dengan klik Google News.






