DIALEKTIKA KUNINGAN — Hujan deras yang mengguyur Kabupaten Kuningan selama lebih dari delapan jam memicu tembok penahan tanah (TPT) di Desa Purwasari, Kecamatan Garawangi, longsor pada Senin (10/11/2025) malam.
Satu rumah warga tertimpa material longsoran dan tiga penghuni terpaksa mengungsi.
Kepala Pelaksana BPBD Kuningan, Indra Bayu Permana, membenarkan kejadian itu dan menyebut intensitas hujan tinggi membuat struktur tanah di sekitar lokasi menjadi labil.
“TPT milik Bapak Endy Rohandi longsor sekitar pukul 22.15 WIB akibat hujan lebat,” jelasnya, Selasa (11/11/2025).
Material longsor setinggi 2,5 meter dan sepanjang 10 meter menghantam rumah milik Anah Maryanah yang berada tepat di bawahnya. Akibatnya, bagian dapur dan kamar tidur rumah Anah roboh.
Beruntung tidak ada korban jiwa dalam musibah tersebut, namun kerusakan rumah tergolong parah sehingga keluarga korban harus mengungsi ke rumah anaknya.
“Saat ini tim kami masih melakukan pendataan dan memberikan bantuan logistik darurat,” ujar Indra.
Pembersihan material longsoran dilakukan bersama aparat desa, warga, TNI, dan Polri. BPBD juga mengingatkan masyarakat di wilayah rawan longsor untuk lebih waspada dan segera melapor bila melihat tanda-tanda pergerakan tanah.
Hujan Ekstrem Pemicu 9 Titik Longsor di Kabupaten Kuningan
Selain di Purwasari, hujan dengan intensitas tinggi sejak Senin sore juga memicu bencana longsor dan pergerakan tanah di sembilan lokasi berbeda di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.
Peristiwa itu sesuai dengan peringatan dini cuaca yang sebelumnya dikeluarkan BMKG.
“Prediksi BMKG terbukti akurat, hujan deras terjadi sejak pukul 15.00 hingga 20.00 WIB dan menyebabkan sembilan titik longsor dilaporkan ke BPBD,” kata Indra Bayu.
Sembilan titik bencana tersebut tersebar di Kecamatan Ciniru, Hantara, Kuningan (kota), Kadu Gede, Garawangi, dan Japara.
BPBD Kuningan telah menurunkan tim asesmen ke seluruh lokasi terdampak untuk memetakan kerusakan dan kebutuhan darurat.
“Penanganan difokuskan pada wilayah yang paling terdampak, terutama rumah rusak dan fasilitas vital seperti jalan serta jembatan,” jelas Indra.
Kerusakan terparah terjadi di Purwasari, di mana satu rumah warga mengalami rusak berat hingga penghuninya harus mengungsi.
Meski begitu, BPBD Kuningan memastikan tidak ada korban jiwa dalam rentetan bencana ini.
Selain permukiman, jembatan di Desa Cijemit yang menjadi penghubung antar desa juga rusak diterjang arus sungai.
“Jembatan di atas Sungai Cipedak itu sangat vital bagi warga karena menjadi akses utama ekonomi dan mobilitas,” paparnya.
Kalak BPBD Kuningan mengingatkan, memasuki musim hujan, masyarakat diminta terus waspada dan memperhatikan informasi peringatan dini dari BMKG agar bisa mengantisipasi potensi bencana sejak dini.***
Baca juga berita-berita menarik dialektika.id dengan klik Google News.






