DIALEKTIKA KUNINGAN — Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Diskatan) Kabupaten Kuningan memanfaatkan momentum halalbihalal Idulfitri 1447 H untuk menegaskan kembali pentingnya menjaga kekompakan internal di tengah tugas besar sektor pangan.
Kegiatan halalbihalal yang berlangsung di Masjid Al-Falah Diskatan Kuningan, Jumat, bukan sekadar agenda silaturahmi setelah Lebaran.
Di hadapan seluruh pegawai, Kepala Diskatan Kuningan, Dr. Wahyu Hidayah mengingatkan bahwa Idulfitri seharusnya menjadi ruang untuk menata kembali niat bekerja.
Menurutnya, organisasi tidak akan kuat hanya karena program berjalan, tetapi juga karena orang-orang di dalamnya mampu menjaga kepercayaan dan kebersamaan.
Ia juga menyampaikan permintaan maaf kepada seluruh jajaran atas kekhilafan selama menjalankan tugas, baik dalam hubungan kedinasan maupun secara pribadi.
Dalam sambutannya, Wahyu menyinggung bahwa urusan pangan bukan sekadar target kerja tahunan.
Setiap upaya mendampingi petani dan menjaga produksi pertanian, kata dia, berkaitan langsung dengan kebutuhan dasar masyarakat sehari-hari.
Karena itu, pekerjaan di sektor ini dinilai punya tanggung jawab sosial yang besar sekaligus nilai pengabdian.
Ia mencontohkan, setiap proses mendorong penanaman hingga pendampingan di lapangan pada dasarnya adalah bagian dari kerja yang hasilnya dirasakan luas oleh masyarakat.
Wahyu juga menilai kekuatan lembaga tidak selalu ditentukan oleh besarnya anggaran.
Menurut dia, rasa memiliki antarpegawai justru sering menjadi penopang utama agar pekerjaan berjalan stabil.
Hal itu, lanjutnya, terlihat dari pelaksanaan halalbihalal yang digelar secara swadaya.
Sejumlah pegawai yang berulang tahun pada Maret ikut berkontribusi dalam kegiatan tersebut.
Suasana kebersamaan juga terasa karena agenda itu dirangkaikan dengan perayaan ulang tahun bagi 44 pegawai.
Acara diikuti seluruh pegawai dan turut dihadiri Ketua DWP Diskatan Rika Farliani bersama jajaran.
Dalam kesempatan itu, Wahyu mengajak seluruh aparatur menjadikan kantor sebagai ruang kerja yang sehat, terbuka, dan saling menopang.
Ia menekankan bahwa tantangan organisasi akan selalu ada, tetapi bisa dihadapi jika komunikasi tetap terjaga.
Menurutnya, organisasi yang matang bukan yang bebas persoalan, melainkan yang mampu menyelesaikan persoalan tanpa merusak kebersamaan.
Sementara tausiyah disampaikan oleh H. Dede Wahid Hasyim yang mengingatkan makna Syawal setelah Ramadan.
Ia menilai halalbihalal seharusnya tidak berhenti pada tradisi berjabat tangan.
Yang lebih penting, silaturahmi dibangun dengan niat tulus dan tidak sekadar memenuhi kebiasaan tahunan.
Acara ditutup dengan doa bersama dan musafahah.
Dari pertemuan itu, Diskatan berharap semangat kerja setelah Lebaran bisa kembali terjaga untuk mendukung ketahanan pangan di Kuningan.***
Baca juga berita-berita menarik dialektika.id dengan klik Google News.






