Scroll untuk baca artikel
PendidikanSosial

Alumni’87 SMAN 1 Cilimus Kembali Berkumpul Setelah 39 Tahun: Bakti Sosial Hingga Rencanakan Reuni Akbar Lebaran Mendatang

×

Alumni’87 SMAN 1 Cilimus Kembali Berkumpul Setelah 39 Tahun: Bakti Sosial Hingga Rencanakan Reuni Akbar Lebaran Mendatang

Sebarkan artikel ini

DIALEKTIKA KUNINGAN – Suasana nostalgia bercampur haru menyelimuti Ballroom Hotel Horison Tirta Sanita, Senin (23/3/2026). Ratusan alumni SMAN 1 Cilimus (Smanecis Kuningan) angkatan 1987 berkumpul kembali setelah 39 tahun berpisah. Mereka datang dari berbagai jurusan—Fisika, Biologi 1 & 2, hingga IPS—membawa cerita hidup masing-masing, namun melebur dalam satu ruang penuh keakraban.  

Acara ini bukan sekadar temu kangen. Dari awal, panitia menekankan bahwa reuni harus menjadi wadah mempererat silaturahmi sekaligus memberi manfaat bagi masyarakat. Ketua Ikatan Alumni Necis ’87, H. Sholehuddin, yang kini dikenal sebagai pengusaha sukses di Jakarta, menegaskan hal itu dalam sambutannya. “Terima kasih kepada bapak guru dan teman-teman yang rela meluangkan waktu, meski harus macet-macetan di tengah padatnya arus mudik Lebaran Idul Fitri 1447 H,” ujarnya.  

Sholehuddin menambahkan, reuni kali ini adalah momentum penting. “Angkatan ’87 Smanecis ini paling kompak. Sudah ada 80 alumni yang tergabung. Kita juga sedang menyiapkan bakti sosial: sunatan massal, santunan anak yatim, dan kegiatan kemanusiaan lainnya. Guru-guru akan kita beri penghargaan, bahkan ada doorprize untuk memeriahkan suasana,” katanya.  

Ia menekankan bahwa reuni bukan ajang pamer status. “Banyak dari kita sekarang jadi pejabat, petani, pegawai negeri, pengusaha. Tapi di sini kita berkumpul sebagai teman lama, pernah bersama di satu sekolah. Warna ungu kita pilih sebagai simbol kebersamaan, bukan ego pribadi,” jelasnya.  

Nostalgi Penuh Rasa Rindu

Para alumni SMAN 1 Cilimus angkatan’87 berdatangan dengan wajah sumringah. Ada yang membawa keluarga, ada pula yang datang sendiri. Begitu bertemu, pelukan panjang dan tawa pecah. Cerita masa remaja kembali dihidupkan: dari kenangan guru killer, kisah cinta monyet, hingga pengalaman ikut lomba antarjurusan.  

Ketua Panitia, Suhawan yang adalah seorang purnawirawan Polisi Militer, mengaku terharu melihat antusiasme teman-temannya. “Pertama saya ucapkan terima kasih kepada panitia dan sponsor yang ikut menyukseskan acara ini. Tujuan reuni jelas: memperkuat tali silaturahmi yang sempat terputus karena jarak dan waktu. Semoga ini jadi pengingat untuk kita di masa depan. Sesuai jargon kita, angkatan ’87 memang oke,” ucapnya.  

Suhawan berharap reuni ini bisa berlanjut setiap tahun. “Semoga kita semua diberi kesehatan dan kesempatan untuk kembali berkumpul di reuni berikutnya,” tambahnya.  

Lebih Sekadar Reuni

Yang membuat acara ini berbeda adalah nuansa sosial yang diusung. Sholehuddin menegaskan bahwa reuni bukan hanya nostalgia, tapi juga bentuk pengabdian. “Untuk jadwal bakti sosial, kita akan koordinasikan dengan SMA Cilimus. Nantinya kegiatan akan digelar di sekolah, supaya lebih dekat dengan masyarakat,” katanya.  

Rencana besar juga sudah disiapkan: reuni akbar lintas angkatan tahun depan. “Ini baru awal. Tahun depan kita akan mengadakan reuni akbar seluruh angkatan. Setelah 39 tahun berpisah, sekarang kita berkumpul kembali. Semoga ini jadi tradisi,” ungkap Sholehuddin.  

Acara berlangsung penuh warna. Ada sesi penghargaan untuk guru, penampilan musik, hingga pembagian doorprize. Kehadiran alumni yang kini sukses di berbagai bidang menambah semangat. Salah satunya bos Kue Amanda dari Bandung, yang kini juga mengembangkan bisnis di Kuningan.  

Di sela acara, banyak alumni yang saling bertukar kontak, merencanakan kolaborasi bisnis, bahkan membicarakan peluang kerja sama sosial. “Reuni ini bukan hanya nostalgia, tapi juga membuka jalan untuk saling mendukung,” kata seorang alumni jurusan IPS.  

Reuni SMAN 1 Cilimus (Smanecis) angkatan ’87 di Hotel Horison Tirta Sanita Kuningan bukan sekadar pertemuan biasa. Ia menjadi simbol bahwa persahabatan masa sekolah bisa bertahan puluhan tahun, bahkan berkembang menjadi kekuatan sosial. Haru, tawa, dan semangat kebersamaan berpadu dalam satu ruang, mengingatkan bahwa waktu boleh memisahkan, tapi kenangan selalu menyatukan.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *