DIALEKTIKA KUNINGAN — Gema ayat suci Al Qur’an dan sholawat biasanya mengisi sudut-sudut Pondok Pesantren Husnul Khotimah, namun Jumat (6/2/2026) ba’da salat Jum’at, suasana di Gedung Darul Arqam tampak berbeda.
Ratusan santri kelas 12 MA Pontren Husnul Khotimah yang terletak di Desa Maniskidul, Kecamatan Jalaksana, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, berkumpul bukan untuk kajian kitab fikih klasik, melainkan untuk mendalami “fikih muamalah kontemporer” melalui sosialisasi edukasi literasi keuangan syariah yang diinisiasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Cirebon bersama Bank Syariah Indonesia (BSI).
Langkah ini merupakan bagian dari hajatan besar GERAK Syariah (Gebyar Ramadan Keuangan Syariah). Di tengah momentum bulan suci, para santri diajak untuk merefleksikan bahwa menjaga harta (hifzhul maal) adalah bagian dari maqashid syariah, di mana pengelolaan keuangan yang bijak dan bebas dari unsur non-syar’i menjadi sebuah keharusan bagi generasi muda.
Salah satu poin krusial yang ditekankan adalah kewaspadaan digital. Santri diingatkan untuk menjauhi judi online yang kerap berkedok permainan daring, karena selain merusak moral, praktik ini mengandung unsur maysir (perjudian) yang menghancurkan ekonomi keluarga.
OJK Cirebon di Pontren Husnul Khotimah hadir menjalankan fungsinya secara komprehensif: mengatur, mengawasi, sekaligus menjadi pelindung masyarakat dari jerat kejahatan sektor keuangan.
Materi mengenai inflasi pun dibedah secara logis. Santri diajak memahami bahwa nilai mata uang memiliki fluktuasi yang sulit diprediksi di masa depan, sehingga diperlukan perencanaan yang matang.
Para pemateri, menekankan pentingnya manajemen nafs (hawa nafsu) dalam berbelanja dengan memisahkan mana yang benar-benar kebutuhan primer dan mana yang sekadar keinginan konsumtif.
Strategi menabung pun diberikan sentuhan baru, dengan menyarankan rumus “tabungan di awal”, yakni menyisihkan minimal 40% dari total uang saku atau pendapatan segera setelah diterima.
Pola ini menggeser kebiasaan lama yang hanya menabung dari sisa di akhir bulan, yang seringkali justru tidak menyisakan apa-apa.
Kepala OJK Cirebon, Agus Muntholib, S.H., M.H., menjelaskan, bahwa pemilihan santri kelas 12 sangat strategis karena mereka mulai memasuki usia subjek hukum yang memiliki KTP. Dengan identitas tersebut, mereka sudah memiliki kewenangan melakukan transaksi keuangan secara mandiri, sehingga pemahaman mengenai perbedaan fundamental bank syariah dan konvensional menjadi mutlak diperlukan.
Agus menggarisbawahi tantangan zaman sekarang, yakni kemudahan akses mobile paylater hingga pinjaman online yang hanya sejauh ujung jari. Tanpa literasi, generasi muda rentan terjebak dalam praktik riba dan utang piutang yang berisiko tinggi.
Karena itu, OJK memperkenalkan Indonesia Anti Scam Center (IASC). Bagi santri, IASC adalah “pusat bantuan” jika menemui modus penipuan online. Jika ada tawaran investasi yang mencurigakan atau mendapati akun media sosialnya disasar oknum penipu, IASC menjadi benteng pertahanan pertama agar mereka tidak menjadi korban kerugian finansial.
Data tahun 2025 menunjukkan angka yang menarik: tingkat literasi keuangan syariah di Indonesia sudah menyentuh 53,42%, namun inklusinya baru di angka 13,41%.
“Ini artinya pemahaman masyarakat terhadap keuangan syariah terus meningkat, namun penggunaan produk jasanya masih perlu diperluas,” jelas Agus.
OJK ingin memastikan santri tidak hanya mengerti teori, tapi juga mampu memanfaatkan instrumen keuangan syariah secara cerdas dan bertanggung jawab. Senada dengan itu, Head Area BSI Cirebon–Priangan Timur, Deni Cahyadi, memaparkan berbagai produk syariah yang relevan untuk gaya hidup santri modern.
Sementara dari pihak pondok, H. Maman Kurman, S.H., selaku Ketua 1 Yayasan Husnul Khotimah, mengapresiasi penuh wawasan baru ini. Baginya, di era digital, santri tidak boleh gagap finansial agar mampu berkontribusi membangun ekonomi umat di masa depan.
Annisa Ramham Aqila, salah satu santriwati, mengaku tercerahkan setelah mengikuti sesi ini. Ia kini lebih memahami cara mengelola uang dengan prinsip syariah dan lebih waspada terhadap jebakan layanan digital yang tampak menggiurkan namun berisiko. Dengan bekal ini, para lulusan Pontren Husnul Khotimah Kuningan diharapkan tumbuh menjadi generasi yang tidak hanya salih secara ritual, tapi juga mandiri dan cerdas secara finansial.***
Baca juga berita-berita menarik dialektika.id dengan klik Google News.







