Scroll untuk baca artikel
Berita

Romo Mudji Meninggal Dunia: Ini Jadwal Misa Requiem dan Pemakamannya

×

Romo Mudji Meninggal Dunia: Ini Jadwal Misa Requiem dan Pemakamannya

Sebarkan artikel ini
Romo Mudji meninggal dunia pada usia 71 tahun. Ini profil, rekam jejak sang budayawan, hingga jadwal Misa Requiem di Kolese Kanisius Jakarta
Romo Mudji meninggal dunia pada usia 71 tahun. Ini profil, rekam jejak sang budayawan, hingga jadwal Misa Requiem di Kolese Kanisius Jakarta.

DIALEKTIKA KUNINGAN — Dunia filsafat, literasi dan kebudayaan Indonesia berduka setelah rohaniwan sekaligus budayawan besar, Romo FX Mudji Sutrisno SJ, mengembuskan napas terakhirnya di RS Carolus, Jakarta, Minggu malam, 28 Desember 2025.

Kabar duka Romo Mudji meninggal dunia dikonfirmasi oleh seniman Butet Kartaredjasa yang melepas kepergian Sang Romo dengan pesan menyentuh melalui media sosialnya pada Senin pagi.

Perjalanan Terakhir di Usia 71 Tahun

Romo Mudji meninggal dunia pada umur 71 tahun tepat pukul 20.43 WIB setelah menjalani perawatan intensif akibat sakit yang dideritanya.

Saat ini, jenazah beliau disemayamkan di Kolese Kanisius, Menteng, untuk memberikan kesempatan bagi kolega dan umat memberikan penghormatan terakhir.

Baca Juga:  BGN Tutup Dapur MBG Bermasalah? Deadline 30 Oktober 2025 Meleset, 80% SPPG di Jawa Barat tak SLHS! Akankah Ditutup…

Jadwal Misa Requiem dan Pemakaman

Pihak Jesuit Indonesia menginformasikan bahwa Misa Requiem atau misa arwah akan digelar selama dua malam berturut-turut, yakni pada 29 dan 30 Desember 2025 pukul 19.00 WIB.

Rencananya, jenazah akan diberangkatkan menuju tempat peristirahatan terakhir di Taman Maria Ratu Damai, Girisonta, Ungaran, pada Rabu mendatang.

Sosok Multitalenta: Dari KPU Hingga Kanvas Lukis

Lahir di Solo, Romo Mudji bukan sekadar pemuka agama, melainkan intelektual bergelar doktor filsafat dari Universitas Gregoriana, Italia.

Jejak pengabdiannya sangat luas, mulai dari mengajar di STF Driyarkara hingga sempat menjadi anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) periode 2001-2005.

Warisan Karya yang Abadi

Sebagai penulis produktif, karya-karya seperti “Ziarah Anggur” dan “Sunyi yang Berbisik” menjadi bukti kedalaman pemikirannya dalam memotret kemanusiaan.

Baca Juga:  Wamenpora Hadiri Sidang Kabinet Paripurna, Presiden Prabowo Optimis Timnas Indonesia Bangkit

Tak hanya lewat kata-kata, beliau juga mengekspresikan spiritualitasnya melalui lukisan, termasuk pameran terakhirnya “Dari Gereja ke Gereja” yang baru saja digelar September lalu.

Intelektual yang Memilih Jalan Sunyi

Keputusan mundurnya dari KPU pada 2003 demi kembali mengabdi di dunia pendidikan membuktikan integritasnya sebagai seorang pendidik sejati.

Kini, sosok yang lembut dan penuh kedalaman ilmu tersebut telah berpulang, meninggalkan ruang hampa di dunia filsafat dan kebudayaan tanah air.***

Baca juga berita-berita menarik dialektika.id dengan klik Google News.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *