DIALEKTIKA KUNINGAN — Soft tenis belum punya gaung sebesar sepak bola atau bulu tangkis di Kuningan. Justru dari celah itulah PESTI diminta bergerak lebih agresif, mencari bibit muda, memperbanyak turnamen, dan membawa olahraga ini sampai melahirkan atlet berprestasi.
Persatuan Soft Tenis Indonesia (PESTI) Kabupaten Kuningan resmi memiliki kepengurusan baru setelah pelantikan dan pengukuhan yang berlangsung di Gedung C Lantai 3 Universitas Muhammadiyah (UM) Kuningan, Sabtu (15/8/2026).
Wakil Bupati Kuningan, Hj. Tuti Andriani, SH., M.Kn., yang hadir pada kegiatan tersebut meminta pengurus PESTI tidak berhenti pada urusan organisasi, tetapi serius membangun pembinaan atlet secara berkelanjutan.
Menurut Tuti, keberadaan PESTI harus mampu memberi ruang bagi generasi muda untuk tumbuh melalui olahraga, sekaligus membentuk anak-anak yang sehat, disiplin, sportif, tangguh, dan punya mental berprestasi.
“Bagi saya, pelantikan hari ini bukan sekadar pengukuhan kepengurusan. Ini adalah awal dari sebuah tanggung jawab dan komitmen bersama untuk menjadikan soft tenis sebagai salah satu cabang olahraga yang semakin berkembang, berprestasi, dan memiliki tempat di hati masyarakat Kuningan,” ungkap Tuti.
Ia menyadari soft tenis belum sepopuler sejumlah cabang olahraga lain yang sudah lebih dulu dikenal masyarakat. Namun, kondisi itu justru dinilai sebagai kesempatan bagi PESTI untuk membuka jalan dan memperkenalkan olahraga tersebut lebih luas.
Pembinaan pun diminta dimulai sejak usia dini. PESTI diharapkan mampu menemukan calon atlet berbakat, meningkatkan kemampuan pelatih dan wasit, serta menghadirkan kompetisi yang berlangsung secara berjenjang.
“Prestasi tidak lahir secara tiba-tiba. Prestasi lahir dari latihan yang panjang, disiplin yang kuat, kompetisi yang sehat, serta pembinaan yang konsisten,” tegas Tuti.
Pekerjaan tersebut tentu tidak bisa dilakukan sendirian. PESTI diminta membangun kerja sama dengan KONI, Dinas Pemuda dan Olahraga, sekolah, perguruan tinggi, komunitas olahraga, dunia usaha, hingga berbagai pemangku kepentingan.
Bagi Tuti, ukuran keberhasilan olahraga juga tidak semata-mata dilihat dari jumlah medali. Ada proses pembentukan karakter yang jauh lebih panjang, terutama untuk menyiapkan generasi muda yang sehat, disiplin, sportif, tangguh, dan memiliki sikap positif.
Pesan itu kemudian ia titipkan kepada jajaran pengurus yang baru menerima amanah. Organisasi harus dibangun bersama, pembinaan dijalankan dengan sabar, sementara target prestasi dikejar melalui kerja keras.
“Bangun organisasi dengan kebersamaan. Kembangkan pembinaan dengan kesabaran. Dan kejar prestasi dengan kerja keras,” pesannya.
Tuti juga mengingatkan agar PESTI tidak sekadar aktif secara administratif dan sibuk dengan agenda organisasi. Kehadiran PESTI harus terasa sampai ke masyarakat melalui kegiatan olahraga, turnamen, serta pembinaan atlet yang rutin.
“Jangan biarkan organisasi hanya hidup di atas kertas. Hadirkan PESTI di tengah masyarakat,” ujarnya.
Ia bahkan mendorong pengurus memperbanyak kegiatan dan kompetisi agar semakin banyak anak-anak Kuningan mengenal soft tenis sejak usia muda.
“Perbanyak kegiatan, perbanyak turnamen, perbanyak pembinaan, dan yang paling penting, perbanyak anak-anak Kuningan yang mencintai olahraga soft tenis,” lanjutnya.
Tuti optimistis pembinaan yang dilakukan secara serius dan konsisten akan membuka peluang lahirnya atlet-atlet baru dari Kuningan. Bukan hanya untuk membawa nama daerah, tetapi juga berpeluang menembus level Jawa Barat hingga nasional.
“Selamat bekerja, selamat mengabdi, dan selamat membangun prestasi,” pungkas Tuti.
Pelantikan dan pengukuhan PESTI Kabupaten Kuningan menjadi titik awal untuk memperkuat organisasi sekaligus memperluas pengembangan soft tenis agar semakin dikenal, diminati, dan mampu menyumbang prestasi bagi olahraga Kuningan.***
Baca juga berita-berita menarik dialektika.id dengan klik Google News.






