Scroll untuk baca artikel
PersibSeni

Karya Seni Viral, Bobotoh yang Terpikat: Cerita dari Cultura PERSIB

×

Karya Seni Viral, Bobotoh yang Terpikat: Cerita dari Cultura PERSIB

Sebarkan artikel ini
Cultura PERSIB menarik perhatian publik. Rasa penasaran pengunjung terjawab lewat karya seni yang mengangkat sisi lain klub.
Cultura PERSIB menarik perhatian publik. Rasa penasaran pengunjung terjawab lewat karya seni yang mengangkat sisi lain klub.

DIALEKTIKA KUNINGAN — Nama Persib mungkin menjadi alasan pertama banyak orang datang ke Grey Art Gallery. Namun rasa penasaran terhadap karya-karya yang dipamerkan justru membuat mereka bertahan lebih lama, membaca cerita, lalu menemukan sisi lain klub yang selama ini hanya dikenal dari lapangan sepak bola.

Rasa penasaran menjadi salah satu magnet utama yang menarik pengunjung ke Cultura PERSIB. Pameran yang berlangsung di Grey Art Gallery, Kota Bandung, itu tak hanya menghadirkan karya seni bertema Persib, tetapi juga menawarkan cara baru untuk mengenal klub kebanggaan warga Jawa Barat tersebut.

Hingga 10 September 2026, ruang pamer tersebut terbuka untuk masyarakat umum. Pengunjung datang dari berbagai kalangan, mulai dari Bobotoh, pegiat seni, hingga keluarga yang sekadar ingin melihat langsung karya-karya yang sebelumnya ramai dibicarakan di media sosial.

Salah satunya Hadziqraid El Syauqi, siswa kelas VI asal Lembang. Datang bersama ibunya, Vini Yustia Rahmatunisa, ia mengaku sengaja menyempatkan diri berkunjung karena ingin mengetahui seperti apa isi pameran yang mengangkat nama Persib.

Rasa ingin tahu itu terbayar setelah ia menyusuri area pameran. Penggemar Beckham Putra Nugraha tersebut mengaku memperoleh banyak pengetahuan baru tentang Persib yang sebelumnya belum pernah ia ketahui.

“Senang sama sekarang udah enggak penasaran lagi. Syauqi sekarang jadi tahu lebih banyak soal PERSIB. Yang paling Syauqi suka, di sini ada mozaik foto pemain-pemain Persib. Syauqi pernah bikin mozaik juga di sekolah,” ujarnya, Sabtu, 20 Juni 2026.

Fenomena serupa juga ditangkap pengelola galeri. General Manager Grey Art Gallery, Angga Aditya Atmadilaga, mengatakan sebagian besar pengunjung datang membawa rasa penasaran yang kemudian berkembang menjadi ketertarikan terhadap karya-karya yang dipamerkan.

Menurut Angga, banyak karya yang telah lebih dulu dikenal publik karena viral di media sosial. Pertemuan langsung dengan karya asli menghadirkan pengalaman berbeda karena pengunjung dapat memahami konteks serta gagasan yang melatarbelakangi proses kreatif para seniman.

“Secara umum tanggapan publik positif, terlebih mereka melihat karya yang sudah lebih dahulu viral di media sosial. Di sisi lain, ketakjuban itu bertambah saat publik turut membaca latar belakang dari karya yang tertera,” kata Angga.

Bukan hanya karya yang mudah dipahami yang menyita perhatian. Sejumlah karya dengan pendekatan simbolis justru memancing lebih banyak pertanyaan dari pengunjung.

Angga menyebut karya-karya tersebut mengundang publik untuk menafsirkan maknanya sendiri. Situasi itu membuat proses menikmati pameran tidak berhenti pada pengalaman visual semata.

“Pada beberapa karya lainnya, publik penasaran kenapa begini dan kenapa begitu karena karya-karya tersebut cenderung bukan karya yang ilustratif tapi cukup simbolis ya. Contohnya seperti karya Toni Antonius,” ujarnya.

Selain menikmati pameran, pengunjung juga dapat mengakses merchandise resmi klub melalui pop up store PERSIB yang hadir di area galeri. Kehadiran gerai tersebut menjadi pelengkap pengalaman bagi pengunjung yang ingin membawa pulang produk resmi Maung Bandung.

Pop up store itu akan beroperasi hingga 11 Juli 2026. PERSIB juga membuka gerai serupa di Festival Citylink yang melayani pengunjung sampai akhir Juni 2026.

Sejumlah promo khusus turut ditawarkan pada kedua lokasi tersebut. Program itu menjadi daya tarik tambahan, terutama bagi Bobotoh yang ingin mendapatkan produk resmi dengan harga lebih terjangkau.

Bagi Angga, respons positif publik menjadi kabar menggembirakan bukan hanya bagi penyelenggara, tetapi juga para seniman yang terlibat. Apresiasi yang diberikan pengunjung dinilai menjadi energi baru bagi para kreator untuk terus berkarya.

“Para seniman bangga bisa terlibat di Cultura PERSIB terlebih karya mereka mendapat sambutan positif dari publik. Apresiasi publik menjadi pemantik sekaligus penyemangat dalam memelihara pola kreatif untuk karya-karya mereka berikutnya,” katanya.

Cultura PERSIB pada akhirnya tidak hanya menjadi ruang pamer karya seni. Ajang ini juga membuka percakapan baru antara sepak bola, seni, dan publik yang selama ini mungkin hanya mengenal Persib dari pertandingan dan tribun stadion.***

Baca juga berita-berita menarik dialektika.id dengan klik Google News.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *