DIALEKTIKA KUNINGAN — Remontada itu akhirnya datang juga—dan Persib Bandung melakukannya dengan cara yang tak setengah-setengah di pekan ke-30 BRI Super League 2025/2026.
Laga tandang melawan Bhayangkara FC di Stadion Sumpah Pemuda, Bandar Lampung, Kamis malam, berubah dari mimpi buruk jadi panggung pembuktian dengan skor akhir 2-4.
Bhayangkara membuka pertandingan seperti tim yang sudah membaca arah permainan sejak awal.
Baru enam menit berjalan, Henry Doumbia langsung menusuk lewat serangan cepat dan menuntaskannya jadi gol pembuka setelah menerima umpan Privat Mbarga.
Dua menit kemudian, Doumbia hampir mencetak gol keduanya saat berhadapan langsung dengan Teja Paku Alam, tapi momen itu berhasil digagalkan di detik krusial.
Tekanan Bhayangkara belum selesai.
Menit ke-26, giliran Moussa Sidibe yang mencatatkan nama di papan skor setelah menerima umpan terobosan dari Doumbia—tuan rumah unggul 2-0 dan Persib terlihat goyah.
Persib sebenarnya bukan tanpa peluang.
Thom Haye sempat mengancam lewat sepakan keras di depan gawang, tapi Aqil Savik masih sigap menepis.
Gol yang ditunggu akhirnya datang di penghujung babak pertama.
Federico Barba menyambar umpan silang Adam Alis dengan sundulan yang tepat sasaran di masa injury time, memperkecil skor jadi 2-1 dan menjaga napas Persib tetap hidup.
Masuk babak kedua, tempo berubah drastis.
Persib tampil lebih berani menekan, seolah keluar dari ruang ganti dengan pendekatan yang berbeda.
Hasilnya langsung terasa di menit ke-49.
Berguinho menyamakan kedudukan lewat sundulan keras memanfaatkan umpan Layvin Kurzawa—skor kembali imbang 2-2.
Momentum berbalik sepenuhnya ke tim tamu.
Menit ke-60, Beckham Putra melepaskan sepakan yang sempat membentur pemain lawan sebelum masuk ke gawang, membawa Persib unggul 3-2.
Bhayangkara mencoba merespons, tapi penyelamatan Teja Paku Alam dalam situasi satu lawan satu dengan Sidibe jadi titik penting yang menjaga keunggulan.
Persib kemudian mengunci laga menjelang akhir waktu normal.
Adam Alis mencetak gol keempat di menit ke-89, memastikan comeback itu benar-benar selesai.
Bhayangkara sempat dua kali mencetak gol balasan lewat Dendy Sulistyawan dan Sidibe, tapi keduanya dianulir karena offside—momen yang memotong peluang mereka untuk bangkit.
Sepanjang laga, Persib terlihat lebih dominan dalam penguasaan bola dan penciptaan peluang, meski sempat terpukul di awal.
Pelatih Persib, Bojan Hodak, mengakui babak pertama timnya berjalan jauh dari rencana.
Ia menyebut ruang ganti di jeda pertandingan dipenuhi emosi—kekecewaan yang justru memantik respons berbeda di babak kedua.
Menurutnya, perubahan itu terjadi setelah pemain mulai menjalankan instruksi taktik dengan lebih disiplin dan berani menekan.
Di sisi lain, gelandang Marc Klok mengingatkan timnya untuk tidak terlena.
Baginya, kemenangan ini baru satu langkah dari rangkaian laga yang ia sebut sebagai “empat final” berikutnya.
Sementara itu, pelatih Bhayangkara, Paul Munster, melihat pertandingan ini sebagai pelajaran mahal.
Ia menilai timnya sudah memulai laga dengan baik, tapi kehilangan kendali setelah turun minum.
Dua gol yang dianulir di babak kedua diakuinya turut memengaruhi momentum, meski ia tak menjadikannya alasan utama kekalahan.
Evaluasi, kata Munster, akan jadi fokus setelah laga ini, karena ia menilai timnya belum tampil maksimal saat dibutuhkan.
Hasil ini mengantar Persib kembali ke puncak klasemen dengan 69 poin, menggeser Borneo FC lewat keunggulan head to head.
Sebaliknya, Bhayangkara harus rela turun ke posisi keenam dengan 47 poin setelah gagal mempertahankan keunggulan di kandang sendiri.***
Baca juga berita-berita menarik dialektika.id dengan klik Google News.







