DIALEKTIKA KUNINGAN — Siswa MTs Negeri 10 Kuningan mulai mengenal pembelajaran coding setelah Universitas Muhammadiyah Kuningan menjalankan program kolaborasi pendidikan yang sebelumnya disepakati kedua lembaga tersebut.
Program ini merupakan tindak lanjut dari penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) dan Perjanjian Kerja Sama (MoA) yang diteken pada 13 Februari 2026 melalui Fakultas Pendidikan, Sosial, dan Teknologi (FPST) UM Kuningan.
Tahap pelaksanaan dimulai pada Senin, 6 April 2026, ketika dosen bersama mahasiswa dari Program Studi S1 Pendidikan Teknologi Informasi dan Komunikasi (PTIK) serta Program Studi S1 Sistem dan Teknologi Informasi (STI) turun langsung mendampingi kegiatan belajar di sekolah.
Rektor UM Kuningan, Dr. apt. Wawang Anwarudin, M.Sc., menyebut masuknya materi coding ke kelas madrasah menjadi langkah awal agar siswa lebih dekat dengan pembelajaran teknologi sejak dini.
“Kebutuhan literasi digital terus berkembang sehingga sekolah perlu membuka ruang belajar yang memberi siswa kesempatan memahami teknologi secara lebih mendasar,” ungkapnya.
Dalam kerja sama tersebut, UM Kuningan menyiapkan tenaga pengajar yang memiliki latar belakang pemrograman dan teknologi digital, sementara MTsN 10 Kuningan mendukung pelaksanaan melalui fasilitas serta sarana belajar yang tersedia di sekolah.
“Materi coding tidak hanya mengenalkan perangkat digital, tetapi juga melatih siswa memahami logika berpikir, menyusun langkah kerja, hingga mencari solusi atas persoalan yang mereka temui,” jelas Wawang.
Pendekatan itu dianggap penting karena keterampilan digital kini semakin dibutuhkan dan mulai menjadi bagian dari kemampuan dasar dalam proses pendidikan.
Ia menambahkan, program tersebut juga menjadi bentuk pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pada bidang pendidikan dan pengabdian kepada masyarakat.
Bagi Universitas Muhammadiyah Kuningan, kegiatan semacam ini membuka ruang kontribusi kampus agar lebih dekat dengan kebutuhan pembelajaran yang mengikuti perkembangan teknologi.
Sementara bagi MTsN 10 Kuningan, hadirnya kelas coding memberi pengalaman baru bagi siswa yang sebelumnya lebih banyak mengenal teknologi dari sisi penggunaan, bukan memahami bagaimana sistem digital bekerja.
Melalui kolaborasi ini, kedua lembaga berharap siswa madrasah memiliki bekal yang lebih siap menghadapi perubahan dunia pendidikan sekaligus tuntutan kompetensi di masa depan.***
Baca juga berita-berita menarik dialektika.id dengan klik Google News.






