DIALEKTIKA — Pancasila kembali dibicarakan bukan sekadar sebagai dasar negara, tetapi sebagai kekuatan yang menentukan seberapa kuat Indonesia menjaga persatuan di tengah perubahan zaman. Pesan itu mengemuka dari lingkungan Pondok PPHM Lirboyo, Kediri, yang telah sukses menggelar giat Sosialisasi 4 Pilar MPR RI ke-5.
Bukan sekadar sebagai dasar negara, tetapi Pancasila sebagai kekuatan yang menentukan seberapa kuat Indonesia menjaga persatuan di tengah perubahan zaman.
Pesan tersebut mengemuka dalam kegiatan Sosialisasi 4 Pilar MPR RI ke-5 yang berlangsung di Aula Pondok PPHM Lirboyo, Kediri, dengan mengangkat tema “Pancasila dan Kekuatan Bangsa”.
Kegiatan itu menghadirkan KH. An’im Falahuddin Mahrus sebagai salah satu narasumber dan menjadi ruang untuk memperkuat pemahaman masyarakat, terutama santri serta lingkungan pesantren, mengenai posisi Pancasila sebagai dasar negara sekaligus pemersatu bangsa.
KH. An’im Falahuddin Mahrus menilai kekuatan Indonesia tidak bisa hanya dilihat dari sumber daya alam, pertumbuhan ekonomi ataupun kemajuan teknologi.
Menurutnya, ada kekuatan lain yang tidak kalah penting, yakni nilai, karakter dan persatuan yang hidup di tengah masyarakat.
“Pancasila harus menjadi nilai yang hidup dalam kehidupan masyarakat. Ia bukan hanya untuk diucapkan, tetapi harus menjadi pedoman dalam bersikap, bermasyarakat dan menjaga persatuan bangsa,” demikian pokok pesan dalam kegiatan tersebut, yang disampaikan kepada dialektika.id, Senin (14/9/2026).
Pandangan itu sekaligus menegaskan bahwa Pancasila tidak cukup berhenti pada hafalan ataupun simbol kenegaraan, melainkan perlu terlihat melalui sikap dan perilaku masyarakat sehari-hari.
Peran pesantren kemudian menjadi bagian penting dari pembahasan tersebut. KH. An’im juga mengingatkan bahwa pesantren mempunyai posisi strategis dalam membentuk karakter generasi bangsa.
Pesantren, kata dia, bukan hanya tempat untuk memperdalam ilmu agama, tetapi memiliki sejarah panjang dalam melahirkan generasi yang mempunyai kepedulian terhadap kehidupan bangsa dan negara.
Tradisi keilmuan yang kuat serta pendidikan karakter yang berkembang di lingkungan pesantren dinilai dapat menjadi modal penting untuk memperkokoh kehidupan kebangsaan.
“Pesantren memiliki peran penting dalam membentuk manusia yang berilmu, berakhlak dan memiliki tanggung jawab terhadap masyarakat serta bangsa,” menjadi salah satu penekanan dalam pembahasan tersebut.
Pondok Pesantren Lirboyo sendiri mempunyai sejarah panjang dalam kehidupan keagamaan maupun kebangsaan. Sosok KH. An’im Falahuddin Mahrus juga dikenal menyampaikan pentingnya wawasan kebangsaan serta peran santri dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Momentum Sosialisasi 4 Pilar MPR RI itu sekaligus mengingatkan kembali masyarakat terhadap empat konsensus dasar kehidupan berbangsa dan bernegara, yakni Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Bhinneka Tunggal Ika.
Keempatnya memiliki hubungan yang tidak dapat dipisahkan dalam membangun kehidupan bangsa yang demokratis, berkeadilan sekaligus tetap menjaga persatuan.
Tantangan terhadap persatuan pun semakin kompleks seiring perkembangan teknologi informasi dan derasnya arus informasi yang diterima masyarakat setiap hari.
Informasi yang tidak benar, polarisasi sosial, intoleransi hingga berbagai bentuk perpecahan menjadi persoalan yang membutuhkan ketahanan masyarakat, terutama ketika informasi bergerak begitu cepat.
Kondisi tersebut membuat penguatan nilai Pancasila dinilai semakin relevan, khususnya bagi generasi muda. Santri dan kalangan pesantren diharapkan tidak hanya kuat dalam ilmu keagamaan, tetapi juga mempunyai wawasan kebangsaan dan mampu mengambil peran dalam kehidupan sosial.
Pancasila juga tidak ditempatkan sebagai sesuatu yang bertentangan dengan nilai keagamaan. Nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah dan keadilan sosial justru dapat menjadi landasan bersama untuk membangun kehidupan masyarakat yang harmonis.
Sosialisasi 4 Pilar MPR RI ke-5 di Aula Pondok PPHM Lirboyo akhirnya membawa pesan yang lebih luas: menjaga Indonesia bukan hanya tugas pemerintah.
Kesadaran setiap warga negara untuk merawat persatuan dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila juga menjadi bagian penting dari kekuatan bangsa.
Pesan kebangsaan dari lingkungan pesantren tersebut diharapkan terus tumbuh, terutama sebagai bagian dari pembentukan generasi muda yang berkarakter, mencintai tanah air dan mampu menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan jati diri bangsa.
Pancasila dengan demikian bukan hanya dasar negara, tetapi juga kekuatan moral dan sosial yang dapat menjaga seluruh elemen bangsa Indonesia tetap terhubung di tengah keberagaman.***
Baca juga berita-berita menarik dialektika.id dengan klik Google News.





