Scroll untuk baca artikel
Persib

PERSIB Lolos Final Piala Presiden 2026, Igor Tolic Malah Semprot Panitia Soal Jadwal Nyeleneh, Why?

×

PERSIB Lolos Final Piala Presiden 2026, Igor Tolic Malah Semprot Panitia Soal Jadwal Nyeleneh, Why?

Sebarkan artikel ini
Persib Bandung lolos ke final Piala Presiden 2026 usai tekuk Persija Jakarta 2-1. Igor Tolic soroti jadwal laga yang langgar aturan FIFA.
Persib Bandung lolos ke final Piala Presiden 2026 usai tekuk Persija Jakarta 2-1. Igor Tolic soroti jadwal laga yang langgar aturan FIFA.

DIALEKTIKA KUNINGAN — Dua gol cepat di babak pertama sukses mengunci kemenangan vital Persib Bandung atas rival abadinya, Persija Jakarta, sekaligus mengamankan tiket ke partai puncak. Namun, di balik kelolosan dramatis ini, muncul sorotan tajam terkait padatnya jadwal pertandingan yang dinilai mengancam kondisi fisik para pemain.

Penantian panjang selama 11 tahun akhirnya tuntas setelah Persib Bandung mengandaskan perlawanan Persija Jakarta 2-1 di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Selasa (4/8/2026) sore.

Kemenangan ini membawa Maung Bandung mengulang memori manis 2015 silam, saat mereka pertama kali mencicipi sekaligus menjuarai trofi Piala Presiden usai membungkam Sriwijaya FC.

Guna meredam agresivitas lawan sejak awal, pelatih Igor Tolic meracik komposisi terbaiknya dengan mengandalkan Teja Paku Alam di bawah mistar serta duet Sekulic dan Barros di lini depan.

Laga langsung berjalan sengit sejak peluit pertama dibunyikan, namun benteng kokoh Persija membuat tekanan awal Maung Bandung belum membuahkan peluang bersih.

Persija justru nyaris mencuri gol lebih dulu di menit ke-15, andai sontekan jarak dekat Witan Sulaeman tidak menyamping dari sasaran.

Kebuntuan pecah pada menit ke-21 lewat sepakan terukur Uilliam Barros, disusul eksekusi penalti Balsa Sekulic enam menit kemudian yang dihadiahkan wasit setelah peninjauan VAR mengonfirmasi handball Denis Kolinger.

Meski kedua tim saling jual beli serangan hingga penghujung babak pertama, papan skor tetap bertahan 2-0 untuk keunggulan Persib hingga turun minum.

Memasuki babak kedua, Persija yang merombak taktik mulai mengambil alih kendali permainan, walau Persib sempat mengancam lebih dulu via tendangan keras Barros di menit ke-56.

Ancaman balik Persija nyaris membuahkan hasil dua menit berselang saat tandukan tajam Gustavo Almeida menyambar umpan bebas Calonego hanya menghantam mistar gawang.

Melihat tekanan makin masif, Tolic menyegarkan amunisi di menit ke-65 dengan memasukkan Julio Cesar dan Ramon Tanque untuk menggantikan Menalo serta Sekulic.

Intensitas tinggi pertandingan langsung memakan korban semenit kemudian, saat Kakang Rudianto terpaksa melakukan pelanggaran keras hingga dijatuhi kartu kuning.

Dewi fortuna kembali menaungi Persib di menit ke-70 setelah sepakan keras Witan Sulaeman lagi-lagi hanya mengguncang tiang gawang Teja Paku Alam.

Guna menyuntikkan tenaga baru di tengah stamina pemain yang mulai terkuras, Dedi Kusnandar dan Nazriel Alfaro dihadirkan menggeser posisi Adam Alis serta Notsuda pada menit ke-74.

Gempuran tiada henti Macan Kemayoran akhirnya memecah kebuntuan di menit ke-85 lewat sepakan pemain pengganti Kwon Changhoon usai memaksimalkan umpan manis Victor Dethan.

Merespons gol tersebut, Tolic merapatkan barisan pertahanan dengan memasukkan Peralta, Hamra, dan Adzikry di sisa waktu pertandingan.

Hingga lima menit masa injury time berakhir, tembok pertahanan Persib tampil kokoh menahan gempuran lawan demi mengamankan keunggulan 2-1 sampai peluit panjang.

Kendati sukses mengantar timnya ke final, Igor Tolic justru melontarkan kritik pedas terkait jeda waktu pertandingan yang dinilai tidak manusiawi.

Juru taktik asal Kroasia itu menegaskan bahwa kritiknya murni demi menjaga keselamatan dan stamina para pemain, bukan bentuk alasan atas kinerja tim.

Ia mempertanyakan regulasi panitia yang hanya memberikan waktu istirahat 48 jam, padahal kriteria minimum FIFA menetapkan batas ideal 72 jam antarpertandingan.

Tolic merasa heran dengan kebijakan lokal tersebut dan mempertanyakan ketegasan penyelenggara dalam menerapkan aturan standar internasional.

Secara terbuka, ia menyindir konsistensi panitia yang menuntut kedisiplinan tinggi di lapangan namun mengabaikan aspek penting pemulihan kondisi fisik pemain.

Bagi Tolic, regulasi resmi seharusnya dipatuhi secara mutlak tanpa ada diskresi yang berpotensi merugikan keselamatan atlet di lapangan.

Walau melemparkan protes keras, skuad Pangeran Biru tetap profesional dan mengalihkan fokus penuh menghadapi laga final yang dijadwalkan Kamis (6/8) malam.

Di kubu lawan, pelatih anyar Persija Shin Tae-yong menyayangkan atmosfir laga klasik ini yang harus berjalan hampa tanpa kehadiran penonton di tribun.

Juru taktik asal Korsel itu mengaku kurang puas atas kekalahan dalam debut resminya dan berjanji segera melakukan evaluasi menyeluruh pada skuad Macan Kemayoran.

Laga ini sekaligus menjadi ujian awal bagi Shin Tae-yong dalam meracik strategi dan menyatukan kedalaman skuad barunya.

Penampilan belum maksimal juga diakui bek kiri Pratama Arhan, yang menyebut timnya masih membutuhkan waktu adaptasi dengan skema anyar pelatih.

Ia menilai proses penyatuan visi bermain antara susunan pemain baru dan racikan taktik Shin Tae-yong memang masih berjalan bertahap.

Kekalahan tipis 2-1 ini otomatis menghentikan langkah Persija di babak semifinal turnamen pramusim tersebut.

Terpisah, Ketua Organizing Committee Tsamara Amany mengonfirmasi bahwa keputusan menggelar laga tanpa penonton murni didasari pertimbangan keamanan ketat.

Faktor rivalitas tinggi antar lini suporter dari empat tim semifinalis menjadi alasan utama diterapkannya kebijakan laga tertutup tersebut.***

Baca juga berita-berita menarik dialektika.id dengan klik Google News.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *