DIALEKTIKA KUNINGAN — Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) mulai memutar arah strategi menghadapi derasnya pengaruh kecerdasan buatan dengan menyiapkan perubahan besar pada platform AMSINews.id.
Gagasan ini diperkenalkan dalam webinar daring Sosialisasi AMSINews.id yang diikuti lebih dari 60 perwakilan media anggota AMSI dari berbagai daerah, Selasa sore (3/2/2026).
Ketua Umum AMSI, Wahyu Dhyatmika, menyebut AI generatif telah menciptakan tekanan berlapis bagi media digital, mulai dari anjloknya trafik organik hingga puluhan persen sampai praktik pengambilan konten oleh bot AI tanpa kompensasi.
Ia menilai, kehadiran fitur ringkasan berbasis AI membuat pembaca tak lagi perlu membuka laman media, sementara konten jurnalistik tetap disedot untuk kepentingan platform lain.
Wahyu menegaskan, kondisi ini tidak bisa dihadapi secara individual karena masalahnya menyangkut kekuatan hukum dan nilai ekonomi konten.
Menurutnya, hanya dengan bergerak bersama, media memiliki peluang memperkuat posisi tawar saat berhadapan dengan ekosistem AI yang terus membesar.
Diskusi juga menyinggung dampak lanjutan AI terhadap keberlanjutan bisnis media, mulai dari penurunan traffic, tergerusnya pendapatan, hingga lonjakan biaya server akibat aktivitas bot.
Ironisnya, kunjungan tersebut tidak datang dari pembaca manusia, melainkan dari sistem AI yang menyalin berita untuk kepentingan pelatihan model.
Situasi inilah yang mendorong publisher untuk mulai memikirkan langkah mitigasi, termasuk opsi pemblokiran crawler AI sekaligus mencari celah agar perubahan ini bisa menjadi peluang.
AMSI sendiri tengah menyiapkan skema monetisasi melalui platform yang sedang dikembangkan dan disebut telah menarik perhatian pihak domestik maupun internasional.
Wahyu menekankan, kekuatan kolektif publisher dapat menjadi tolok ukur yang mengundang mitra sevisi dan membuka ruang negosiasi bisnis yang lebih setara.
AMSINews.id yang semula hanya berfungsi sebagai agregator kini diproyeksikan bertransformasi menjadi pusat data atau jalur distribusi informasi bagi pengembang AI.
Melalui infrastruktur tersebut, AMSI ingin memastikan konten anggota tetap terlindungi sekaligus memiliki nilai ekonomi lewat mekanisme lisensi.
“Kita tidak boleh lagi defensif, tapi harus proaktif menyiapkan strategi. Kunci utamanya adalah kolektivisme. Kita tidak bisa berjuang sendiri di era AI ini. Kebersamaan seluruh publisher di AMSI menjadi penting agar posisi tawar kita secara hukum dan ekonomi menjadi lebih kuat saat bernegosiasi dengan platform AI,” tegas Wahyu Dhyatmika.
Ketua Bidang Teknologi dan Informasi AMSI sekaligus CTO Tempo, Heru Tjatur, menjelaskan bahwa AI membutuhkan data berkualitas tinggi agar tidak menghasilkan informasi keliru.
Menurut Heru, media sejatinya memiliki aset data yang sangat berharga, namun selama ini nilainya hilang karena diakses bebas oleh bot AI.
Lewat AMSINews.id, AMSI ingin membangun jalur resmi agar pengembang AI bisa mengakses data akurat tanpa mengabaikan hak ekonomi media.
Dalam pemaparan lanjutan, disebutkan penguatan AMSINews.id memberi sejumlah keuntungan bagi anggota, termasuk peluang menjual arsip teks, foto, dan video sebagai dataset AI.
Selain itu, pengaturan akses bot yang lebih ketat diharapkan dapat memperkuat perlindungan hak cipta konten jurnalistik.
AMSI juga menyiapkan dukungan teknis untuk menyamakan format data agar konten anggota dapat terintegrasi dalam satu ekosistem.
Bagi organisasi, inisiatif ini diproyeksikan memperkuat peran AMSI sebagai wakil kolektif dalam negosiasi hak cipta, serupa dengan skema Lembaga Manajemen Kolektif di industri musik.
“Faktanya, infrastruktur media kini dibebani oleh aktivitas bot AI yang meningkat tajam, namun nilai konten kita lepas begitu saja. Lewat AMSINews.id, kita menyiapkan infrastruktur kolektif di mana pengembang AI dapat mengakses data akurat melalui jalur lisensi resmi. Ini adalah upaya agar media mendapatkan kompensasi yang adil atas karya jurnalistiknya”, jelas Heru Tjatur.
Saat ini, AMSI tengah menjajaki kerja sama teknis dengan sejumlah platform global, termasuk Mozilla Data Collective dan SyftBox dari OpenMined.
Teknologi tersebut memungkinkan distribusi data berlangsung aman dan transparan tanpa memindahkan kepemilikan data mentah sepenuhnya.
AMSI juga mengajak anggota yang tertarik untuk mulai berkomunikasi melalui sekretariat sebagai tahap awal keterlibatan.
Anggota diminta melakukan pendataan aset digital sejak awal berdiri agar memudahkan penyusunan struktur data bersama.
Sosialisasi ini menjadi langkah awal sebelum AMSI memfinalisasi aspek legal dan teknis, lalu meminta persetujuan penuh anggota untuk memulai komersialisasi data secara kolektif.***
Baca juga berita-berita menarik dialektika.id dengan klik Google News.






