Scroll untuk baca artikel
Berita

Mortalitas Ikan Dewa Balong Girang Cigugur Jadi Perhatian? Analisis Penyebab, Pemkab Kuningan Lakukan Investigasi

×

Mortalitas Ikan Dewa Balong Girang Cigugur Jadi Perhatian? Analisis Penyebab, Pemkab Kuningan Lakukan Investigasi

Sebarkan artikel ini
Ratusan ikan dewa di Balong Girang Cigugur mati massal. Pemkab Kuningan lakukan mitigasi cepat dan investigasi mendalami faktor penyebabnya.
Ratusan ikan dewa di Balong Girang Cigugur mati massal. Pemkab Kuningan lakukan mitigasi cepat dan investigasi mendalami faktor penyebabnya.

DIALEKTIKA KUNINGAN — Fenomena kematian massal ikan dewa yang selama ini dipandang sakral oleh masyarakat terjadi di objek wisata Balong Girang Cigugur, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, dalam beberapa hari terakhir.

Peristiwa tersebut tercatat menyebabkan ratusan ikan dewa mati massal dan memicu perhatian pemerintah daerah karena belum pernah terjadi sebelumnya dalam skala sebesar ini.

Bupati Kuningan, H. Dian Rachmat Yanuar, melakukan peninjauan langsung ke Balong Girang Cigugur pada Minggu (1/2/2026) guna memastikan kondisi lapangan serta menyiapkan langkah penanganan awal.

Berdasarkan laporan yang diterima di lokasi, kematian massal ikan dewa mulai terdeteksi sejak Kamis dengan jumlah awal sekitar 24 ekor.

Seiring waktu, jumlah ikan yang mati mengalami peningkatan signifikan hingga mencapai ratusan ekor dalam beberapa hari.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kuningan, Usep Sumirat, menyampaikan bahwa penyebab kematian ikan masih memerlukan kajian lebih mendalam.

Baca Juga:  Almamater Memanggil: Sambut Reuni Akbar SMANDA Kuningan Bersama 41 Angkatan

Ia menjelaskan kemungkinan faktor yang memengaruhi antara lain perubahan iklim mikro pada ekosistem kolam serta potensi serangan penyakit, yang akan dianalisis lebih lanjut melalui balai riset Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Sementara itu, Kepala Bidang Perikanan Dinas Perikanan dan Peternakan (Diskanak) Kabupaten Kuningan, Denny Rianto, mengungkap adanya indikasi gangguan kesehatan pada ikan.

Temuan lapangan menunjukkan gejala berupa perubahan warna pada mulut ikan, keberadaan parasit cacing, serta dugaan fluktuasi suhu air yang cukup ekstrem.

Bupati Dian menyebutkan bahwa jumlah ikan yang mati telah melampaui 150 ekor sejak pertengahan pekan.

Ia menilai kejadian ini sebagai persoalan serius karena belum pernah tercatat adanya kematian massal ikan dewa dalam skala tersebut.

Baca Juga:  Link Live Streaming Indonesia vs Thailand, Timnas Day Final Piala AFF U19 Sedang Berlangsung di TV Online Gratis!

Sebagai langkah mitigasi awal, petugas merekomendasikan peningkatan kadar oksigen di kolam melalui sistem pompanisasi air.

Menindaklanjuti rekomendasi tersebut, Bupati langsung menginstruksikan penambahan pompa air dengan melibatkan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian.

Menurut Bupati Kuningan, langkah cepat diperlukan untuk menekan risiko bertambahnya jumlah ikan yang mati.

Ia menegaskan bahwa penanganan darurat harus berjalan seiring dengan proses identifikasi penyebab utama kematian ikan.

Hingga saat ini, penyebab pasti masih dalam tahap pendalaman dan belum dapat disimpulkan secara definitif.

Selain faktor penyakit dan perubahan suhu, kondisi kolam yang tidak dikuras secara berkala serta kemungkinan ketidakseimbangan nutrisi juga masuk dalam daftar evaluasi.

Dalam kesempatan yang sama, Bupati Kuningan menyampaikan apresiasi kepada masyarakat yang telah menyampaikan laporan secara cepat.

Baca Juga:  PERSIBDAY! Port FC vs Persib Bandung Tayang di TV Mana? Simak Prediksi H2H Susunan Pemain, Catatan Statistik Lengkap Link Live Streaming

Ia mengimbau warga agar terus berperan aktif melaporkan persoalan lingkungan melalui jalur komunikasi resmi, baik ke dinas terkait maupun pemerintah kecamatan.

Bupati menegaskan bahwa ikan dewa di Balong Girang Cigugur memiliki nilai lebih dari sekadar objek wisata.

Keberadaannya dipandang sebagai simbol identitas dan kebanggaan masyarakat Kuningan yang tidak ditemukan di daerah lain.***

Baca juga berita-berita menarik dialektika.id dengan klik Google News.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *