DIALEKTIKA — Stadion Giuseppe Sinigaglia jadi saksi bisu betapa ringkihnya struktur build-up Manchester United saat digulung 1-4 oleh tim intensitas tinggi Como 1907 pada matchday Liga Champions, Rabu malam WIB.
Nico Paz tampil ala half-space operator kelas wahid lewat torehan brace dan satu key pass berbuah goal, sebelum Anastasios Douvikas serta Jacobo Ramon menyempurnakan set-piece exploit tuan rumah.
Setan Merah cuma bisa memecah telur lewat eksploitasi counter-transition Joshua Zirkzee saat laga sudah memasuki injury time babak kedua.
Hasil disasterclass ini makin memperpanjang tren winless run United yang gagal mengamankan three points dalam tujuh laga beruntun di semua kompetisi.
Akibat kekalahan telak ini, positioning tim asuhan Michael Carrick kian melorot ke peringkat 23 tabel klasemen fase liga dengan torehan tiga poin.
Sebaliknya, anak asuh Cesc Fabregas justru merangkak naik ke peringkat 10 berkat raihan enam poin yang didapat dari skema permainan high pressing nan efektif.
Performa buruk di Italia ini jelas jadi salah satu low point sejarah Eropa United, sekaligus menaruh under pressure posisi Carrick sebagai head coach.
Lini pertahanan United gagal melakukan box defending dengan rapi, membuat Nico Paz bebas menceploskan gol kilat saat laga baru berjalan 118 detik.
Catatan horrible ini menjadikan Manchester United tim Inggris pertama dalam sejarah yang kebobolan early goal di bawah dua menit pada dua laga Eropa secara beruntun.
Kontrasnya perjalanan kedua klub makin kentara, mengingat saat United meraih treble/UCL 2008, Como bahkan masih berjuang mengatasi financial crisis di kasta Serie D.
Dominasi Paz di final third benar-benar mengacak-acak defensive line lawan lewat pergerakan interchanging yang berujung eksekusi klinis.
Saking rapuhnya low block Manchester United, mereka sempat dibayangi potensi terulangnya record defeat 0-5 saat bersua Sporting CP pada era klasik 1964.
Carrick merespons kepanikan taktik ini dengan merombak pivot dan double pivot mahal £110 juta mereka—Matheus Cunha serta Andrey Santos—sejak half-time, sebelum akhirnya mengistirahatkan Bruno Fernandes.
Satu-satunya momen clean chance United cuma lahir dari late run Zirkzee yang memanfaatkan crossing Amad Diallo usai lolos offside trap.
Begitu peluit akhir berbunyi, Carrick berjalan sendirian menuju away end sambil mengangkat tangan—sebuah deja vu memuakkan yang mengingatkan publik pada momen sacking Ole Gunnar Solskjaer.***
Baca juga berita-berita menarik dialektika.id dengan klik Google News.







