Angkringan Jo Paul Citarasa Senja View Ciremai Tumbuhkan Geliat Ekonomi Kreatif Kalikoa Cirebon

Angkringan Jo Paul tulang punggung ekonomi kreatif Desa Kalikoa, Kabupaten Cirebon, jadi perintis pasar kuliner di Taman Edukasi Kalikoa.
Angkringan Jo Paul tulang punggung ekonomi kreatif Desa Kalikoa, Kabupaten Cirebon, jadi perintis pasar kuliner di Taman Edukasi Kalikoa.*

DIALEKTIKA — Berjalan petang hari sekitar Taman Edukasi Kalikoa dekat GOR Bima gelanggangnya kaum muda-mudi Kota Wali, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, tampak pemandangan yang jadi pembeda di perkampungan tersebut.

Pada sebuah alun-alun Desa Kalikoa, Kecamatan Kedawung, begitu hidup suasananya di kala matahari terbenam. Ramai pedagang rombong kuliner berjejer d sana, beda dari lainnya yang berpegang pada mitos “rejeki dipatok ayam”, atau harus bekerja sebelum si gundul muncul di jendela.

Suasananya begitu alami tak banyak sentuhan modernitas di sini. Siapa pun yang datang pasti merasa sehat tentram, karena tak sekadar bisa menikmati sajian kuliner, hiburan musik, tapi disuguhkan pula pemandangan indah dari gagahnya gunung tertinggi di Provinsi Jawa Barat, yakni view mountain Ciremai tampak dari sudut pandang Kabupaten Kuningan.

Seperti pasar malam namun ini bukan. Pasar tumpah pun bukan, menyerupai pusat jajanan serba ada (pujasera) tapi berada di tengah lapang sebuah desa, karena dihidupi para pedagang kuliner etnik seperti kopi khaz daerah, empal gentong, mi koclok, sega jamblang, seblak dan cilok yang banyak diburu remaja, hingga ada satu lokal yang menjajakan menu Yogyakarta yaitu angkringan.

Namanya Angkringan Jo Paul berada di deretan paling depan atau pada pintu masuk pusat kuliner Taman Edukasi Kalikoa ini. Dikenal sebagai perintis gerakan ekonomi kreatif di Desa Kalikoa yang digagas kakak-beradik, Suryawan dan Windu Saputra, bersama dengan aktivis pemuda desa setempat lainnya.

Suryawan dikenal sebagai seniman yang memiliki keahlian dalam bidang seni rupa lukisan dan pandai membuat patung. Sementara adiknya, Windu Saputra, seorang pemuda yang berpengaruh di Desa Kalikoa.

Windu pun diketahui bukan pemula menggeluti usaha kuliner. Ia ternyata sudah lama menjadi pebisnis angkringan, dimana sudah empat lokasi dijajalnya sebagai tempat membuka angkringan di wilayah Cirebon.

“Sebelum di sini, sebelumnya saya sudah membuka angkringan di dekan kampus Untag, lalu ke jalan Perjuangan, kemudian di area GOR Bima, dan sekarang di Kalikoa,” ungkapnya, Jumat 4 Agustus 2023.

“Kenapa sekarang di sini, karena saya melihat potensi desa sebagai tanah kelahiran yang dari kecil kan mainnya di sini. Maka, terbersit keinginan untuk mengembangkan desa sendiri,” tambah Windu.

Di Angkringan Jo Paul tampak yang paling banyak pengunjungnya. Hal ini, selain karena sang owner merupakan penggagas atau yang mendirikan pasar kuliner di Desa Kalikoa, terlebih para pelanggan loyal Angkringan Jo Paul dari perbincangan dengan beberapa konsumen mengutarakan selalu memburu ke mana pun angkringan ini berada, meski telah berpindah-pindah ke beberapa tempat.

Ditanya soal omset, karena hampir 80 persen pengunjung Angkringan Jo Paul adalah bukan warga Desa Kalikoa, dikatakan Windu pendapatannya meski tak jauh beda dari angkringan sebelumnya, malah kini menjadi lebih, dikarenakan hadir dengan suasana lebih eksotis yang menarik banyak lagi pengunjung.

“Pengunjung yang banyak datang ini mereka rata-rata dari luar kampung sini. Bahkan tak ayal ada pelanggan yang sering ke angkringan mulai statusnya pacaran sampai sekarang sudah menikah jadi suami-istri,” bebernya.

Pemilik usaha Angkringan Jo Paul menyebut resep kuatnya menjalankan bisnis angkringan di Cirebon adalah sistem kekeluargaan di antara pemegang modal dengan yang mengoperasionalkannya. Pun, sikap terhadap pelanggan dianggap sebagai kerabat, dimana ikatan emosional yang terbangun menjadikan banyak repeat order alias pembeli berulang kali serta memberikan kesan positif.

“Kami berprinsip kalau usaha itu ya jangan hanya kaya aja jadi kita ada keluarganya tuh Mas. Jadi, Alhamdulillah selama menjalankan usaha sampai sekarang itu ya saya dari konsumen itu jadi kayak kerabat aja gitu. Jadi kita tetap berkesinambungan, bahkan ada konsumen yang dari pacaran sampai nikah tetap selalu datang ke angkringan. Walaupun angkringan kami geser kemana pun, tetap banyak yang nyari gitu, tinggal datang ngabarin,” tutur Windu alias Paul.

Sayang para pelaku usaha ekonomi kreatif di Taman Edukasi Kalikoa tersebut mengeluh jika musim penghujan tiba. Pasalnya, pengunjung yang datang hanya kehitung jari jumlahnya. Omset mereka melorot, hingga menyiasatinya dengan membuat sistem aplusan di antara penjaga kedai, sebab para pemilik tak sanggup membayar upahnya kalau semua bekerja secara full.

“Kalau musim hujan apalagi ada angin kenceng, omset berkurang drastis. Lalu kita siasatin biasanya kalau ada karyawan bisa dua sampai tiga orang kita ambil satu saja kalau pas hujan itu giliran liburnya, atau kalau kita bilangnya gak ada istilah Bos, jadi ini usaha bersama,” tukasnya.

“Kalau rata-rata per hari dapat omset bersih Rp300 ribuan, udah bersih itu keuntungan bersih ya. Kalau pas hujan ngedrop banget.

Pada weekend dan waktu hari libur lainnya, tempat ini tak pernah sepi pengunjung. Lahan parkir pun luas, juga dikelola baik oleh pengurus di sana, yang manfaatnya untuk menjadi penpadatan asli desa.

“Aku dari Perum Kecapi, aku bukan mahasiswa atau anak kos, baru lulus SMA mau masuk kuliah. Makan di Angkringan Jo Paul, di sini nyaman, enak panggang ayamnya gurih beda dari angkringan lain,” ungkap Yuni, seorang pengunjung.

Satu orang lagi temannya bernama Septi, mengutarakan, “yang membuat beda karena merasa berada di alam, ya serasa kemping tapi di angkringan,” kesannya.***

Baca juga berita-berita menarik Dialektika.id dengan klik Google News.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *